Home » 2015 » September

Monthly Archives: September 2015

Situasi dan Kondisi Barat pada Abad Pertengahan

Oleh : Drs. Syafri Gunawan, M.Ag

Setelah sekian lama peradaban manusia mengukir kejayaannya di Timur, muncul di Barat beberapa ribu tahun kemudian. Peradaban baru itu diawali dengan munculnya kajian filsafat pada abad ke-6 SM. Thales telah dianggap sebagai filosof pertamaYunani. Filsafat kian pesat berkembang di Yunani melalui kiprah filosof kenamaan Socrates, Plato dan Aristoteles yang bermuara di sebuah sudut kota bernama Athena. Di Athena, misalnya, Plato (W.347 SM) mendirikan akademi filsafat yang belakangan dikenal sebagai Museum Athena, sebuah lembaga besar dan terbuka, tempat para ilmuan dari berbagai latar belakang bangsa dan agama bersama-sama mengembangkan pengetahuan.

ilutrasibaratSemenjak munculnya para filosof di atas, ilmu pengetahuan mulai berkembang di Yunani sebagai embrio lahirnya peradaban Barat. Namun, perkembangan filsafat dani lmu pengetahuan tersebut seakan-akan terhenti ketika kekaisaran Yunani runtuh, kemudian Kaisar Augustus mendirikan kerajaan Romawi (27 SM), Athena pada ketika itu tetap sebagai pusat kegiatan intelektual. Meskipun demikian secara perlahan kegiatan intelektual di bawah kepemimpinan Romawi mulai mengalami kemorosotan. Kemunduran yang sudah jelas ini mencapai puncaknya ketika Kaisar Justian I berkuasa dan pada tahap berikutnya disusul pula dengan runtuhnya kekuasaan Romawi. Dengan berakhirnya kedua kekaisaran tersebut, muncul kekuatan dan kekuasaan gereja sebagai penggantinya. Sejak itu, semua aktivitas keilmuan yang bertentangan dengan dogma gereja akan dimusuhi, bahkan ilmuannya dijatuhi hukuman mati.

Sejak masa ini, Eropa berada di bawah tekanan dan penindasan yang dilakukan oleh penguasa gereja dan penguasa Negara, kebebasan dikekang dan akal dibelenggu sehingga ilmu pengetahuan tidak memperoleh kemajuan. Selama berabad-abad Eropa ditekan oleh sistem religius yang menganut permusuhan terhadap alam. Eropa tidak memiliki gaya atau semangat hidup dan sama sekali tiada tempat bagi dunia penyelidikan ilmiah, bahkan pada masa itu Eropa kehilangan hubungan dengan hasil-hasil capaian filsafat Yunani dan Romawi.

Dengan keadaan yang kurang menguntungkan ini banyaki lmuan memutuskan untuk meninggalkan Athena, dan memilih pindah ketempat di mana kebebasan dan fasilitas keilmuan lebih tersedia. Pada umumnya pilihan yang diambil adalah daerah-daerah di pantai timur Laut Tengah, kedaerah yang dalam peta modern adalah Palestina, Lybia, Syiria, Mesir, Libanon, atau lebih kedalam lagi, Irakdan Persia. Proses ini berperan besar bagi semakin berkembangnya pemikiran Helenisme yang memadukan tradisi intelektual Yunani dan tradisi intelektual Timur. Di antara meraka yang memutuskan meninggalkan Athena pada 529 adalah ilmuan-ilmuan berikut: Justinianos, Athenius, Proclus, Damascius, Simplicius, Eulamius, Priscianus, Diogenes, dan Isidorus. Kegiatan ilmiah mereka ini mencakup bidang-bidang filsafat alam, psikologi, perawatan tubuh, astronomi, dan sejarah.

Eksodusi lmuan dari kota Athena tersebut mendorong terbentuknya atau semakin majunya beberapa pusat kegiatan ilmiah di daerah-daerah sebelah timur Laut Tengah. Di antaranya yang terpenting, seperti kota Aleksandaria, Edessa, Harran, Nisibis, dan Jundi Syapur.

Aleksandaria (Arab: al-Iskandariyah) dibangun sekitar abad ke-3 SM, terletak di pantai Laut Tengah, termasuk wilayah Mesir dalam peta modern. Kota iniberada di bawah kekuasaan Romawi Timur hingga datangnya Islam. Kota ini sangat signifikan karena sejak abad pertama Masehi telah menjadi pusat pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani, demikian jugai lmu-ilmu yang berasal dari tradisi Timur (India dan Cina) maupun tradisi ilmiah Mesir sendiri yang juga sudah sangat tua. Jadi, kota ini tidak saja berfungsi melanjutkan tradisi Yunani, tetapi juga memfasilitasi tradisi tersebut dengan tradisi Timur.

Sebaga ipusat ilmiah, kota Aleksandaria mendapat dukungan yang baik dari kaisar di Konstantinopel, paling tidak hingga abad ke-4 M. Tercatat bahwa-kota ini mengalami kemajuannya setidaknya sejak abad ke-1 hingga abad ke-5, dan sejumlah besar ilmuan meniti karirnya di sini, di antara yang paling terkenal adalah Euclid dan Ptolemy. Kelihatannya, keterbukaan dan kebebasan ilmiah yang dulunya.

membuat Athena maju kembali diterapkan di Aleksandaria. Para ilmuan dari berbagai latar belakang budaya dan agama dengan bebas berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan ilmiah di kotaini. Di sini sempat dibangun lembaga pendidikan, yang paling terkenal adalah Museum Aleksandaria yang dilengkapi ruang-ruang belajar, perpustakaan besar, dan observatorium raksasa.

Pada abad ke-5 M., tanda kemunduran kegiatan ilmiah mulai kelihatan menerpa Aleksandaria. Agaknya fanatisme agama yang berlebihan telah menyebabkan kebebasan intelektual mulai terganggu. Keadaan ini membuat sejumlah ilmuan tidak betah lagi di kota ini dan mencarit empat lain yang lebih menjanjikan kebebasan dan fasilitas yang lebih baik. Sebagian besar memilih untuk masuk kedaerah-daerah yang dikuasai kerajaan Persia Sasaniyah, sebab di bawah Sasaniyah kebebasan relatif lebih terjamin. Kemunduran Aleksandaria ini berlanjut terus, sehingga pada saat tentara Islam menaklukkannya pada tahun 643, yang tersisa hanyalah bagian kecil dari lembaga-lembaga ilmiah yang dulunya sangat megah.

Di antara kota tujuan para ilmuan yang meninggalkan Athena dan Aleksandaria adalah Edessa dan Harran, dua kota Mesopotamia Utara di mana kebudayaan Syria kuno sudah berkembang sejakawal. Meskipun pada umumnya penduduk daerah ini adalah penganut Kristen Nestorian, tetapi sebagai sebuah kotai lmiah, para ilmuan Pagan pun mendapat kehormatan di sini. Bahkan kegiatan kota Harran cenderung lebih didominasi olehi lmuan Pagan. Ketika pada tahun 489 M, kaisar Romawi Timur memerintahkan agar akademi ilmiah Edessa ditutup, para ilmuan kembali harus berpindah, kali ini ke Nisbis, masih di Mesopotamia Utara. Di sini berlangsung kegiatan penerjamahan karya-karya penting Yunani dan Sansekerta kedalam bahasa Persia Lama (Pahlavi) dan bahasa Syria, oleh para ilmuan Syria, Yahudi, Persia, dan lain-lain. Karya-karya yang diterjemahkan di sini mencakup bidang-bidang matematika, astronomi, kedokteran, dan filsafat. Pada paruh pertama abad ke-6 M. kota Nisbis memiliki sebuah akademi pendidikan yang mungkin bias disebut terbaik di dunia kala itu.

Pusat intelektual lain yang sangat penting disebut di sini adalah Jundi Syapur, sebuah kota tua di bagian tenggara lembah Mesopotamia dan berada di bawah kekuasaan kerajaan Persia Sasaniyah. Jundi Syapur menjadi pusat intelektual terbaik di zamannya, khususnya setelah raja Syapur II (310-379) memperluas kota ini dan membangun sebuah akademi ilmiah dengan dukungan fasilitas dan finansial yang baik. Akademi ini kemudian melanjutkan usaha bangsa Persia yang sejak awal telah berupaya mengembangkan pengetahuan yang mereka warisi dari peradaban Babilonia dan India, khususnya dalam bidang kedokteran, matematika, dan musik.

Bersamaan dengan berkembangnya kegiatan ilmiah di kawasan Sasaniyah, kerajaan Romawi Timur tampaknya lebih banyak dikuasai oleh kaisar-kaisar yang tidak mendukung kegiatan ilmiah, yang mengakibatkan ditutupnya sejumlah akademi di kota-kota yang sudah disebut di atas. Hal ini secara langsung menguntungkan kota Persia, Jundi Syapur, banyak ilmuan yang kemudian meninggalkan Athena, Aleksandaria dan kota-kota Romawi lainnya lalu memilih untuk menetap di Jundi Syapur. Kegiatan ilmiah di Jundi Syapurmencapai puncak kejayaannya pada abad ke-6 M., namun kota ini masih relatif vital sampai sekitar abad ke-10 M., setelah berada di bawah kekuasaan Muslim.

Dalam kaitan dengan Islam, kesemua kota tersebut dan tradisi intelektual yang dimilikinya adalah sebuah latarbelakang. Padaumumnya kota-kota Romawi Timur telah mengalami kemunduran serius pada abad ke-5 M. dan ke-6 M., sementara kota-kota Sasaniyah sedikit lebih belakangan. Secara geografis, Islam diturunkan di semenanjung Arabia, dikelilingi pada kebanyakan sisinya oleh daerah-daerah kekuasaan Romawi Timur (Mesir dan pantai timur Laut Tengah) dan Sasaniyah (Mesopotomia dan Persia).

Dari Arabia yang gersang, relative terbelakang dalam hal peradaban, bangsa Muslim melakukan perluasan wilayah yang kecepatannya sulit dicari tandingannya dalam sejarah bangsa-bangsa dunia. Dalam lebih kurang satu abad mereka telahmenguasai sebagian besarwilayah yang semula dikuasai Romawi Timur dan Sasaniyah yang memang dalam proses keruntuhan, terutama akibat peperangan yang berkepanjangan. Di sini bukanlah tempatnya untuk menguraikan proses perluasan Islam secara detail. Fokus utama kita adalah bahwa agama ini berhasil menstimulasi lahirnya satu peradaban anggun dan yang lebih penting lagi bagaimana status warisan peradaban kuno (khususnya Yunani-Helenisme) dalam peradaban baru yang menyapu sebagian besarwilayah Romawi Timur ini.

Sumber:

Buletin Perdata dan Hukum Islam “KEADILAN” Edisi 1/Januari 2015. 

Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padangsidimpuan. 

Urgensi Ilmu dan Adab

Oleh:

Hasir Budiman Ritonga, S.H.I., M.Sh

niat

Masalah yang mendasar yang sedang dihadapi umat sekarang ini adalah masalah ilmu dan adab. Ilmu sudah mulai dijauhkan, bahkan dihilangkan dari nilai-nilai adab dalam arti luas. Akibarnya, terjadilah suatu keadaan yang oleh al-Attas disebut sebagai ‘the loss of adab’ (hilangnya adab). Efek buruk dari fenomena ini adalah terjadinya kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan, yang selanjutnya menciptakan ketiadaan adab dari masyarakat. Hasil akhirnya adalah ditandai dengan lahirnya para pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin umat, melainkan juga tidak memiliki akhlak yang luhur dan kapasitas intelektual dan spiritual mencukupi, sehingga itu semua akan membawa kerusakan di pelbagai sektor kehidupan, baik kerusakan individu, masyarakat, bangsa dan negara.

Di dalam Islam, ilmu dan adab adalah dua hal yang saling terintegrasi, yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Keduanya ibarat sebuah koin yang tak terpisahkan dan kebermaknaan yang satu tergantung pada yang lainnya. Ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa buah, adab tanpa ilmu ibarat orang yang berjalan tanpa petunjuk arah. Dengen demikian ilmu dan adab harus bersinergi, tidak boleh dipisah-pisahkan. Berilmu tanpa ada adalah dimurkai, sementara beradab tanpa berilmu adalah kesesatan.

Lebih dari itu, ilmu dan adab adalah inti dari ilmu nafi’, yaitu yang bermanfaat. Ilmu nafi’ ini adalah ilmu yang pernah diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. agar diminta dan dicari setiap saat. Allah Swt. berfirman kepada Nabi-Nya,

 

وقل رب زدني علما.

“Dan katakanlah, wahai Tuhanku tambahkanlah ilmu kepadaku” (Thaahaa: 114)

Melalui ayat ini, Rasulullah saw. diperintahkan untuk senantiasa memohon kepada Allah tambahan ilmu yang bermanfaat. Ibnu Uyainah berkata, “Rasulullah saw. tidak henti-hentinya memohon tambahan ilmu nafi’ kepada Allah sampai wafatnya.” Ibnu Katsir menambahkan bahwa Rasullah saw. tidak pernah diperintahkan untuk meminta tambahan apa pun kecuali tambahan ilmu nafi’ ini. Oleh kerena itu, Rasulullah saw. senantiasa istiqamah melanjutkan doa ilmu nafi’ sebagaimana berikut ini,

عن أبي هريرة رضي الله عنه, قال: كان رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول: الله انفعني بما علمتني, وعلمني ما ينفعني, وزدني علما, و الحمد لله علي كل حال وأعوذ بالله من حال أهل النار.

 

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasullah saw. senantiasa membaca doa, “Ya Allah, berikanlah manfaat terhadap apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajari aku apa yang bermafaat bagiku, dan tambahilah aku ilmu. Segala puji hanya milik-Mu atas segala keadaan dan aku berlindung dari perilaku ahli neraka.” (HR Tirmidzi dan Bazzar)

 

Ilmu yang bermanfaat (ilmu nafi’) akan mendatangkan iman. Realisasi iman akan membawa pada amal saleh. Intergarasi keduanya akan mambawa kepada jalan yang lurus (sirath mustaqim). Dengan demikain, bila ilmu didapatkan, tetapi tidak diikuti dengan amal saleh, bisa digolongkan kepada ilmu yang tidak bermanfaat (ghairu nafi’) dan bahkan termasuk dalam perbuatan munafiq atau seperti perbuatan Yahudi yang dilaknat.

Ilmu yang bermanfaat aselanjutkan akan mendatangkan rasa takut kepada Allah (khasyah) sehingga dapat mendekatkan  pemiliknya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan pemiliknya disebut alim atau ulama. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Fathir: 28,

 

إنما يخشي الله من عباده العلمؤا إن الله عزيز غفور.

“Sesungguhnya hanyalah yang kepada Allah dari hamba-Nya adalah ulama (orang yang berilmu). Sesunguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 28)

 

Menurut Ibn Jauzi ayat ini mengindikasikan bahwa ilmu yang bermafaat aakan mendatangkan khasyah ‘takut’ kepada Allah, dan pemiliknya senantiasa mangukui keagungan Allah sehingga melahirkan tahqiq ubudiyah, yaitu ketundukan dan penghambaan kepada-Nya. Sebalikny, ilmu yang tidak mendatangkan khasyah, tidak bisa disebut sebagai ilmu yang bermafaat dan pemiliknya tidak masuk dalam kategori alim.

Imam Syafi’i, lebih lanjut membuat sebuah kaidah yang tekenal, yaitu “lasail ilm ma hufidza walakin al-ilm ma nafa’a”. artinya, tidaklah disebut ilmu, apa yang hanya dihafal, tetapi ilmu adalah apa yang diaktualisasikan dalam bentuk adab yang memberikan manfaat.

Kaidah Imam Syiafi’I tersebut senada dengan apa yang dikatakan oleh Hubaib ibn Syahid ketika memberikan nasihat kepada putranya,

 

يا بني, اصحب الفقهاء و العلماء و تعلم منهم وخذ أدبهم, فإن ذلك أحب إلي من كثير من الحديث.

 

“Hai anakku, bergaullah (ikuti dan temani terus) dengan para ahli fiqh dan ulama, belajarlah dari mereka, dan ambillah adab (pendidikan akhlak) dari mereka! Karena hal itu lebih aku sukai daripada hanya sekedar memperbanyak hadits.”

Pentingnya ilmu dan adab dalam tradisi intelektual Islam, telah mendorong perhatian para ulama salaf untuk melahirkan sebuah karya abadi tentang kponsep ilmu dan adab, dengan kajian yang mendalam dan konprehensif. Misalnya, Imam Bukhari (194-256) menulis tentang Adab al-Mufrad, al-Rummani (w.384 H) menulis tentang Adab al-Jadal, Ibnu Sahnun (202-256 H) menulis Risalah Adab al-Mu’allimin, al-Mawardi (w.450 H) menulis tentang Adab al-Dunya wa al-Din dan Adab al-Wazir, al-Ghazali (450-505 H) menulis Kitab Al-Ilm, Fatihah al-Ulum dalam Ihya Ulum al-Din, Muhyiddih al-Nawawi (w.676 H) menulis tentang Adab al-Daris wa al-Mudarris, dan kitab-kitab karangan ulama lainnya.

Dari kajian para ulama tersebut disimpulkan bahwa adab memiliki peran sentral dalam dunia pendidikan. Tanpa adab, dunia pendidikan berjalan tanpa ruh, dan makna. Lebih dari itu, salah satu penyebab utama hilangnya keberkahan dalam pendidikan adalah kurangnya perhatian civitas akademikanya dalam masalah adab. Az-Zurnuji mengatakan, “Banyak dari para pencari ilmu yang sebenarnya mereka sudah sungguh-sunggu menuntut ilmu, namun mereka tidak merasakan nikmatnya ilmu, hal ini disebabkan mereka meninggalkan atau kurang memerhatikan adan dalam menuntut ilmu.”

Oleh karena itu, adab harus menjadi perhatian utama bagi pencari ilmu, agar ilmu yang didapatkan kelak bermanfaat dan mendapat keberkahan. Ibn Jama’ah mengatakan, “mengamalkan satu bab adab itu lebih baik daripada tujuh puluh bab ilmu yang hanya sekedar dijadikan sebagai pengetahuan.” Artinya, ilmu sedikit yang diiringi dengan adab itu lebih baik daripada ilmu yang banyak, tetapi kosong dari adab (loss of adab). Wallahu a’lam bisshowab.