Home » jurnal » Analisis Hadis-Hadis Tentang Madzi

Analisis Hadis-Hadis Tentang Madzi

Analisis Hadis-Hadis Tentang Madzi

Drs.Dame Siregar,M.A.

 

Pendahuluan

Laki-laki sebahagian besar usia 12 tahun atau kelas satu Tingkat Menengah Pertama sudah mnegalami atau mengenal madzi. Namun jika ditanya kepadanya apa yang keluar dari zakarnya selain air kencing belum tentu semuanya mengetahuinya. Kemudian jika ditanya apakah madzi itu najis atau tidak, sebahagian besar belum tahu. Manusia yang sudah dewasa sebahagian besar belum dapata membedakan mana madzi mana mani. Maka dengan phenomena yang demikian perlu tulisan ini diselesaikan sebaik mungkin sebagai bahan bacaan dan pedoman umat Islam baik yang akan dewasa dan yang sudah dewasa

Pembahasan

Pengertian Madzi

Cairan praejakulasi, dikenal pula sebagai cairan pra-semen, cairan Cowper, mazi (dalam literatur keislaman), atau precum (dalam bahasa Inggris). Dalam bahasa sehari-hari), adalah cairan kental dan bening yang keluar dari lubang uretra pada penis laki-laki yang terangsang secara seksual. Kandungan cairan ini mirip dengan semen (air mani atau cairan sperma), tetapi tidak memiliki campuran dari kelenjar semen. Cairan yang dihasilkan kelenjar Cowper ini dianggap sebagai pelumas alami sekaligus penetral asam. Terdapat variasi volume cairan praejakulasi yang dikeluarkan oleh setiap laki-laki. Pada sejumlah orang cairan ini tidak dihasilkan sama sekali walaupun terangsang.[1]

Cairan ini dapat mengandung patogen pada orang yang menderita penyakit menular tertentu. Kelenjar Cowper atau kelenjar bulbouretral (bahasa Latin: glandulæ bulbourethrales) ialah sepasang kelenjar kecil eksokrin yang terdapat pada sistem reproduksi pria. Kelenjar Cowper terletak di belakang samping (posterior-lateral) bagian uretra yang bermembran di dasar penis. Kelenjar ini homolog dengan kelenjar Bartholin pada wanita.[2]

Pengertian Mani

Semen, atau secara sehari-hari disebut sebagai air mani atau cairan sperma, adalah cairan yang membawa sel-sel sperma yang dikeluarkan oleh organ-organ seksual laki-laki atau jantan. Fungsi utama semen adalah untuk mengantarkan sel-sel sperma untuk membuahi sel telur yang dihasilkan oleh individu betina. Proses pengeluaran semen dalam situasi normal disebut ejakulasi.[3]

Pengertian Menstruasi

Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Periode ini penting dalam hal reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause. Selain manusia, periode ini hanya terjadi pada primata-primata besar, sementara binatang-binatang menyusui lainnya mengalami siklus estrus[4]

Pada saat menstruasi suami dan isteri dilarang mengadakan hubungan intim, disebabkan pada saat itu wanita sedang mengeluarkan darah kotor. Dalilnya sebagai berikut:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (222)

  1. Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.

137]. Maksudnya menyetubuhi wanita di waktu haidh

138]. Ialah sesudah mandi. Adapula yang menafsirkan sesudah berhenti darah keluar.[5]

Hukuman suami yang menggauli isterinya saat haid adalah bersedekah satu dinar dalilnya sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ حَدَّثَنِي الْحَكَمُ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ مِقْسَمٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الَّذِي يَأْتِي امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ قَالَ يَتَصَدَّقُ بِدِينَارٍ أَوْ نِصْفِ دِينَارٍ قَالَ أَبُو دَاوُد هَكَذَا الرِّوَايَةُ الصَّحِيحَةُ قَالَ دِينَارٌ أَوْ نِصْفُ دِينَارٍ وَرُبَّمَا لَمْ يَرْفَعْهُ شُعْبَةُ

(ABUDAUD – 230) : Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah telah menceritakan kepada saya Al-Hakam dari Abdul Hamid bin Abdurrahman dari Miqsam dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tentang seorang suami yang menggauli istrinya pada waktu haidl, beliau bersabda: “Suami tersebut harus bersedekah dengan satu dinar atau setengah dinar.” Abu Dawud berkata; Demikianlah riwavat yang shahih, beliau bersabda: “Satu dinar atau setengah dinar”. Dan bisa jadi Sy’bah tidak memarfu’kannya.[6]

Kualitas sanad hadis di atas adalah sohih menurut hasil takhrij Muhammad Nashiruddin al-Albani datanya sebagai berikut:

197 – ( صحيح )  ( روى ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم في الذي يأتي إمرأته وهي حائض يتصدق بدينار أو نصف دينار قال أبو داود هكذا الرواية الصحيحة )[7]

 

Pengertian Bartholin atau Lendir pada Vagina .

Kelenjar Bartholin adalah kelenjar ganda yang terletak di bawah dan di kiri dan kanan dari pembukaan vagina pada wanita. Kelenjar ini menghasilkan lendir atau mukus untuk lubrikasi, terutama ketika peningkatan hasrat seksual, yang kemudian akan mendukung kegiatan seksual.[8]

Jika seorang laki-laki atau wanita mnegeluarkan madzi baik sengaja atau tidak, maka akibat hukumnya adalah wajib membersihkan madzinya dan badan atau kain yang kena serta diikuti berwudu’. Jika laki-laki mimpi basah atau tidak sempat keluar maninya hanya madzi saja, maka wajib membersihkan kemaluan dan membasuh pakain dalam atau menggantinya. Janga dibiarkan sampai kering atau berjam-jam baru dia mebersihkannya dan berwudu’. Demikian juga jangan dipakai lagi pakaian yang kena madzi ke sekolah kampus atau tempat kerja sebelum disuci, karena akan mengganggu untuk solat karena kain yang kena madzi. Najis madzi sama dengan najis air kencing.

Keluar Madzi Cukup Berwudu’ bukan wajib Mandi

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُنْذِرٍ الْثَّوْرِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَنَفِيَّةِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ فَقَالَ فِيهِ الْوُضُوءُ

(BUKHARI – 129) : Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Daud dari Al A’masy dari Mundzir Ats Tsauri dari Muhammad Al Hanafiyah dari ‘Ali bin Abu Thalib berkata, “Aku adalah seorang laki-laki yang mudah mengeluarkan madzi, lalu suruh Miqdad bin Al Aswad untuk menanyakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu ia pun menanyakannya kepada beliau, dan beliau menjawab: “Padanya ada kewajiban wudlu.”[9]

Kualitas sanad hadis di atas adalah sohih menurut hasil takhrij Muhammad nashiruddin al-Albani datanay sebagai berikut:

206 حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا عبيدة بن حميد الحذاء عن الركين بن الربيع عن حصين بن قبيصة عن علي رضي الله عنه قال كنت رجلا مذاء فجعلت أغتسل حتى تشقق ظهري فذكرت ذلك للنبي صلى الله عليه وسلم أو ذكر له فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تفعل إذا رأيت المذي فاغسل ذكرك وتوضأ وضوءك للصلاة فإذا فضخت الماء فاغتسل تحقيق الألباني : صحيح[10] .

Tahallul Haji boleh jika tidak bawa hadyu atau qurban bagi haji Ifrod

Haji tamattu’ sanagat membantu terhadap laki-laki atau isteri yang hiperseks, karena antara umroh dengan haji boleh bercampur dengan isteri. Jika tidak, mungkin banyak umat mengeluarkan madzinya, karena banyak melihat wanita yang cantik dan mempesona antara Negara.

 

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ عَطَاءٌ قَالَ جَابِرٌ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ البُرْسَانِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ فِي أُنَاسٍ مَعَهُ قَالَ أَهْلَلْنَا أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَجِّ خَالِصًا لَيْسَ مَعَهُ عُمْرَةٌ قَالَ عَطَاءٌ قَالَ جَابِرٌ فَقَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُبْحَ رَابِعَةٍ مَضَتْ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ فَلَمَّا قَدِمْنَا أَمَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَحِلَّ وَقَالَ أَحِلُّوا وَأَصِيبُوا مِنْ النِّسَاءِ قَالَ عَطَاءٌ قَالَ جَابِرٌ وَلَمْ يَعْزِمْ عَلَيْهِمْ وَلَكِنْ أَحَلَّهُنَّ لَهُمْ فَبَلَغَهُ أَنَّا نَقُولُ لَمَّا لَمْ يَكُنْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ عَرَفَةَ إِلَّا خَمْسٌ أَمَرَنَا أَنْ نَحِلَّ إِلَى نِسَائِنَا فَنَأْتِي عَرَفَةَ تَقْطُرُ مَذَاكِيرُنَا الْمَذْيَ قَالَ وَيَقُولُ جَابِرٌ بِيَدِهِ هَكَذَا وَحَرَّكَهَا فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ قَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّي أَتْقَاكُمْ لِلَّهِ وَأَصْدَقُكُمْ وَأَبَرُّكُمْ وَلَوْلَا هَدْيِي لَحَلَلْتُ كَمَا تَحِلُّونَ فَحِلُّوا فَلَوْ اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْتُ مَا أَهْدَيْتُ فَحَلَلْنَا وَسَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

(BUKHARI – 6819) : Telah menceritakan kepada kami Al Makki bin Ibrahim dari Ibn Juraij, ‘Atha’ berkata, Jabir berkata, Abu Abdullah berkata, Muhammad bin bakar Al Bursani berkata, telah menceritakan kepada kami Ibn Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Atha’ aku mendengar Jabir bin Abdullah di tengah-tenghah manusia yang bersamanya berkata, ‘Kami para sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bertalbiyah dan berniyat haji semata tanpa disertai Umrah.’ Kata ‘Atha, “Jabir berkata, “Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba pada waktu subuh hari keempat bulan Dzulhijjah, tatkala kami tiba, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam memerintahkan kami untuk bertahallul. Beliau sabdakan: ‘Bertahallullah kalian, dan gilirlah isteri-isteri kalian! ‘Atha berkata, “Jabir berkata, “Nabi tidak mewajibkan atas mereka, hanya menghalalkan isteri-isteri itu untuk dikumpuli, kemudian Jabir pun mengabarkannya. Kami katakan, ketika itu jarak antara kami dan Arafah selain hanya lima, dan beliau perintahkan kami untuk bertahallul hingga isteri-isteri kami, lantas kami datangi Arafah sedang kemaluan kami meneteskan madzi.’ Kata ‘Atha, “Jabir berkata, ‘Demikian’ sambil ia gerakkan tangannya. Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan bersabda: ‘Kalian tahu bahwa aku adalah orang yang paling bertakwa diantara kalian dan paling jujur, paling baik, kalaulah bukan karena hewan sembelihanku, niscaya aku telah bertahallul sebagaimana kalian lakukan, maka bertahallullah kalian, kalaulah aku bisa mengulang kembali kejadian yang telah lewat, niscaya aku tidak membawa sembelihan.’ Kami pun bertahallul, mendengar dan taat.”[11]

 

Keluar madzi kemaluan wajib dibasuh

 

و حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ عِيسَى قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مَخْرَمَةُ بْنُ بُكَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَرْسَلْنَا الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ عَنْ الْمَذْيِ يَخْرُجُ مِنْ الْإِنْسَانِ كَيْفَ يَفْعَلُ بِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأْ وَانْضَحْ فَرْجَكَ

(MUSLIM – 458) : Telah menceritakan kepadaku Harun bin Sa’id al-Aili dan Ahmad bin Isa keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Makhramah bin Bukair dari bapaknya dari Sulaiman bin Yasar dari Ibnu Abbas dia berkata, ” Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Kami mengutus al-Miqdad bin al-Aswad kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu dia menanyakan beliau tentang madzi yang keluar dari manusia, apa yang (harus) ia perbuat? ‘ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Berwudhulah, dan siramlah kemaluanmu’.”[12]

 

438 أخبرنا أحمد بن عيسى عن ابن وهب وذكر كلمة معناها أخبرني مخرمة بن بكير عن أبيه عن سليمان بن يسار عن ابن عباس قال قال علي رضي الله عنه أرسلت المقداد إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يسأله عن المذي فقال توضأ وانضح فرجك قال أبو عبد الرحمن مخرمة لم يسمع من أبيه شيئا .تحقيق الألباني :صحيح ، انظر ما قبله ( 437 )[13]

Keluar madzi basuh kemaluan dan berwudu’, keluar mani wajib mandi

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبِيدَةُ بْنُ حُمَيْدٍ الْحَذَّاءُ عَنْ الرَّكِينِ بْنِ الرَّبِيعِ عَنْ حُصَيْنِ بْنِ قَبِيصَةَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَجَعَلْتُ أَغْتَسِلُ حَتَّى تَشَقَّقَ ظَهْرِي فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ ذُكِرَ لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَفْعَلْ إِذَا رَأَيْتَ الْمَذْيَ فَاغْسِلْ ذَكَرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ فَإِذَا فَضَخْتَ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ

(ABUDAUD – 178) : Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami ‘Abidah bin Humaid Al Hadzdza` dari Ar-Rakin bin Ar-Rabi’ dari Hushain bin Qabishah dari Ali radliallahu ‘anhu dia berkata; Saya adalah seorang yang sering keluar madzi, maka aku selalu mandi, sehingga punggungku terasa mau pecah. Karena itu saya sampaikan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau disampaikan kepada beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan kamu lakukan hal itu, apabila kamu melihat madzi, maka basuhlah kemaluanmu, kemudian berwudhulah seperti kamu berwudhu untuk mengerjakan shalat. Apabila kamu mengeluarkan air mani, maka mandilah!”[14]

Anak-anak remaja awal yang belum ada maninya, namun sudah dapat mengeluarkan madzinya maka wajib mandi, karena terasa lazat onani atau mimpi dengan lawan jenisnya. Maka anak sperti itu disuruh membasuh kemaluannya dan membersihkan pakaina yang kena madzinya.

 

Keluar madzi basuh kemaluan dan buah pelirnya

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي النَّضْرِ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ عَنْ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَمَرَهُ أَنْ يَسْأَلَ لَهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرَّجُلِ إِذَا دَنَا مِنْ أَهْلِهِ فَخَرَجَ مِنْهُ الْمَذْيُ مَاذَا عَلَيْهِ فَإِنَّ عِنْدِي ابْنَتَهُ وَأَنَا أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَهُ قَالَ الْمِقْدَادُ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ ذَلِكَ فَلْيَنْضَحْ فَرْجَهُ وَلْيَتَوَضَّأْ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَالَ لِلْمِقْدَادِ وَذَكَرَ نَحْوَ هَذَا قَالَ فَسَأَلَهُ الْمِقْدَادُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَغْسِلْ ذَكَرَهُ وَأُنْثَيَيْهِ قَالَ أَبُو دَاوُد وَرَوَاهُ الثَّوْرِيُّ وَجَمَاعَةٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الْمِقْدَادِ عَنْ عَلِيٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ الْقَعْنَبِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حَدِيثٍ حَدَّثَهُ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قُلْتُ لِلْمِقْدَادِ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ قَالَ أَبُو دَاوُد وَرَوَاهُ الْمُفَضَّلُ بْنُ فَضَالَةَ وَجَمَاعَةٌ وَالثَّوْرِيُّ وَابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ وَرَوَاهُ ابْنُ إِسْحَقَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الْمِقْدَادِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَذْكُرْ أُنْثَيَيْهِ

(ABUDAUD – 179) : Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Abu An-Nadlr dari Sulaiman bin Yasar dari Al-Miqdad bin Al Aswad bahwa Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu pernah menyuruhnya untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang seorang laki-laki yang mendekati istrinya, lalu keluar madzinya. Apakah yang harus dia perbuat (mandi ataukah wudhu saja)? Karena istriku adalah putri beliau, sehingga saya merasa malu bertanya (langsung) kepada beliau. Miqdad berkata; Maka aku pun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal tersebut. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian mendapatkan madzi tersebut, maka hendaklah dia mencuci kemaluannya, dan berwudhulah sebagaimana dia berwudhu untuk mengerjakan shalat.” Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair dari Hisyam bin ‘Urwah dari Urwah bahwasanya Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu pernah berkata kepada Al-Miqdad, dia menyebutkan lafazh semisal ini, dia berkata; Maka Miqdad pun menanyakan hal itu, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah dia membasuh kemaluannya dan kedua biji kemaluannya.” Abu Dawud berkata; Dan diriwayatkan oleh Ats-Tsauri dan Jama’ah dari Hisyam dari Ayahnya dari Al-Miqdad dari Ali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Hisyam bin ‘Urwah dari Ayahnya dari sebuah hadits yang telah dia ceritakan dari Ali bin Abu Thalib dia berkata; Saya pernah berkata kepada Al-Miqdad, lalu dia pun menyebutkan secara makna hadits tersebut. Abu Dawud berkata; Dan diriwayatkan oleh Al-Mufadldlal bin Fadlalah dan Jama’ah dan Ats-Tsauri dan Ibnu ‘Uyainah dari Hisyam dari Ayahnya dari Ali bin Abu Thalib. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Hisyam bin ‘Urwah dari Ayahnya dari Al-Miqdad dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dia tidak menyebutkan tentang dua biji kemaluannya.[15]

Kualitas sanadnya

( سنن أبي داود )

208 حدثنا أحمد بن يونس حدثنا زهير عن هشام بن عروة عن عروة أن علي بن أبي طالب قال للمقداد وذكر نحو هذا قال فسأله المقداد فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ليغسل ذكره وأنثييه قال أبو داود ورواه الثوري وجماعة عن هشام عن أبيه عن المقداد عن علي عن النبي صلى الله عليه وسلم .تحقيق الألباني :صحيح[16]

 

Kain kena madzi wajib dibasuh karena madzi adalah najis

 

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنِي ابْنَ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَقَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ عُبَيْدِ بْنِ السَّبَّاقِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ قَالَ كُنْتُ أَلْقَى مِنْ الْمَذْيِ شِدَّةً وَكُنْتُ أُكْثِرُ مِنْ الِاغْتِسَالِ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّمَا يُجْزِيكَ مِنْ ذَلِكَ الْوُضُوءُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكَيْفَ بِمَا يُصِيبُ ثَوْبِي مِنْهُ قَالَ يَكْفِيكَ بِأَنْ تَأْخُذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَتَنْضَحَ بِهَا مِنْ ثَوْبِكَ حَيْثُ تَرَى أَنَّهُ أَصَابَهُ

(ABUDAUD – 180) : Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepada saya Sa’id bin ‘Ubaid bin As-Sabbaq dari Ayahnya dari Sahl bin Hunaif dia berkata; Saya selalu mengeluarkan madzi, karena itu saya selalu mandi. Maka saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal tersebut. Beliau menjawab: “Sesungguhnya cukup bagimu berwudhu dari hal tersebut.” Aku bertanya kembali; Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan madzi yang mengenai pakaianku? Beliau menjawab: “Cukuplah kamu ambil air sepenuh telapak tanganmu, lalu percikkan pada bagian pakaian yang kamu ketahui terkena madzi.”[17]

 

Madzi bias sebelum mani dan setelah mani keluar

 

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ صَالِحٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ حَرَامِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ عَمِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَّا يُوجِبُ الْغُسْلَ وَعَنْ الْمَاءِ يَكُونَ بَعْدَ الْمَاءِ فَقَالَ ذَاكَ الْمَذْيُ وَكُلُّ فَحْلٍ يَمْذِي فَتَغْسِلُ مِنْ ذَلِكَ فَرْجَكَ وَأُنْثَيَيْكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ

(ABUDAUD – 181) : Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Wahb telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Shalih dari Al-‘Ala` bin Al Harits dari Haram bin Hakim dari Pamannya, Abdullah bin Sa’d Al Anshari dia berkata; Saya pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang apa-apa yang mewajibkan mandi, dan tentang air yang keluar setelah keluarnya air (mani). Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah madzi, dan setiap pria mengeluarkan madzi. Karena itu cukuplah kamu membasuh kemaluan dan kedua biji kemaluanmu, lalu berwudhulah sebagaimana kamu berwudhu untuk shalat.”[18]

Analisis

  1. Jika seorang laki-laki setelah mengeluarkan mani, pasti mash keluar madzinya
  2. Sebelum keluar mani ada mengeluarkan madzi
  3. jika seorang mandi karena keluar mania tau junub, maka wajib dia mandi, sebelumnya membersihkan kemaluan dan kain yang kena madzi dan mani
  4. kemudian setelah mandi masih mau lagi keluar madzinya, mkaa cukup membasuh kemaluan dan biji pelirnya dan kain yang kena madzi adan mani dan berwudu’, biasanya terjadi awal pernikahan setelah bercampur
  5. memang mnai bukan najis, nmaun kita masih kesulitan man mani dan mana madzi, Karen sebelum keluar mnai kadang didahui madzi, setelah mnai keluar lagi madzi, maka akibatnya kesulitan mana mani dan madzi sepreti laki-lkai yang mimpi basah, maka mani yang ada di celana dalam apakah asli semuanya mania tau bercampur dengan madzi
  6. Solusinya tinggalkan yang ragu kepada yang tidak ragu dalilnya sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ وَفِي الْحَدِيثِ قِصَّةٌ قَالَ وَأَبُو الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيُّ اسْمُهُ رَبِيعَةُ بْنُ شَيْبَانَ قَالَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ حَدَّثَنَا بُنْدَارٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ بُرَيْدٍ فَذَكَرَ نَحْوَهُ

(TIRMIDZI – 2442) : Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al Anshari telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Buraid bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` As Sa’di berkata: Aku bertanya kepada Al Hasan bin Ali: Apa yang kau hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam? Ia menjawab: Aku menghafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam: “Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu karena kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan.” Dalam hadits ini ada kisahnya. Abu Al Haura` As Sa’di namanya Rabi’ah bin Syaiban. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. Telah menceritakan kepada kami Bundar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Buraid ia menyebut sepertinya.[19]

  1. Maka sebaiknya anggaplah mani yang bercampur dengan madzi maka wajib dibasuh celana dalam yang kena mimpi basah

Keluar Madzi

Keluar madzi wajib wudu’ dan keluar mani wajib mandi, jika mani keluar pasti keluar madzi sebelum dan sesudahnya

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو السَّوَّاقُ الْبَلْخِيُّ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ ح قَالَ و حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْجُعْفِيُّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ عَلِيٍّ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمَذْيِ فَقَالَ مِنْ الْمَذْيِ الْوُضُوءُ وَمِنْ الْمَنِيِّ الْغُسْلُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ مِنْ الْمَذْيِ الْوُضُوءُ وَمِنْ الْمَنِيِّ الْغُسْلُ وَهُوَ قَوْلُ عَامَّةِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ

(TIRMIDZI – 106) : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amru As Sawwaq Al Balkhi berkata; telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Yazid bin Abu Ziyad, dan ia berkata; telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan berkata; telah menceritakan kepada kami Husain Al Ju’fi dari Za`idah dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ali ia berkata; “Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang madzi, maka beliau menjawab: “Keluarnya madzi itu mengharuskan wudlu, dan keluarnya mani itu mengharuskan mandi.” Ia berkata; “Dalam bab ini juga ada riwayat dari Al Miqdad bin Al Aswad dan Ubai bin Ka’ab.” Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan shahih. Hadits ini juga telah diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari jalur yang lain, yaitu hadits, “Keluarnya madzi itu mengharuskan wudlu, dan keluarnya mani itu mengharuskan mandi.” Ini adalah pendapat kebanyakan ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tabi’in dan orang-orang setelah mereka. Pendapat ini juga diambil oleh Sufyan, Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.”[20]

 

Ciri-ciri madzi mengkristal

 

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ إِنِّي لَأَجِدُهُ يَنْحَدِرُ مِنِّي مِثْلَ الْخُرَيْزَةِ فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ أَحَدُكُمْ فَلْيَغْسِلْ ذَكَرَهُ وَلْيَتَوَضَّأْ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ يَعْنِي الْمَذْيَ

(MALIK – 77) : Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Zaid bin Aslam dari bapaknya bahwa Umar bin Al Khattab berkata; “Aku mendapatinya seperti butiran-butiran kristal, maka jika salah satu dari kalian mengalami hal itu, hendaklah dia membasuh kemaluannya dan berwudlulah seperti wudlu untuk shalat, ” -dan yang dimaksud adalah madzi-.[21]

 

حَدَّثَنَا عَبِيدَةُ بْنُ حُمَيْدٍ التَّيْمِيُّ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنِي رُكَيْنٌ عَنْ حُصَيْنِ بْنِ قَبِيصَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَجَعَلْتُ أَغْتَسِلُ فِي الشِّتَاءِ حَتَّى تَشَقَّقَ ظَهْرِي قَالَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ ذُكِرَ لَهُ قَالَ فَقَالَ لَا تَفْعَلْ إِذَا رَأَيْتَ الْمَذْيَ فَاغْسِلْ ذَكَرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ فَإِذَا فَضَخْتَ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ

(AHMAD – 826) : Telah menceritakan kepada kami ‘Abidah bin Humaid ‘Atho` Taimi Abu Abdurrahman telah menceritakan kepadaku Rukain dari Hushain bin Qabishah dari Ali bin Abu Thalib Radli Allahu ‘anhu berkata; Saya adalah orang yang sering mengeluarkan madzi, maka saya sangat sering mandi pada musim dingin sehingga membuat berat diriku. Hal itu saya sampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau disampaikan kepadanya, maka beliau bersabda: “Janganlah kau lakukan. jika kamu melihatnya, basuhlah kemaluanmu dan dan berwudlulah sebagaimana kamu hendak shalat. Jika kamu telah memancarkan air (mani) maka mandilah.”[22]

 

Ciri-ciri Mani

Cirri-ciri mani memancar dari ujung kepala penis laki-laki yang sudah dewasa, jika pancarannya kurang kuat kemungkinan besar tidak mampu membuahi sel telur isterinya dalam rahim, maka perlu berobat sebaik mungkin. Kurang kuat pancaran mani laki-laki akibat banyaknya masturbasi yang tidak terkordinir olehnya dan orang lain secara timbal balik. Mani yang memencar merupkan ciri sperma yang bagus dan insya Alloh mampu mmebuahi sel ovum isterinya untuk menghasilkan anak. Hal ini telah dijelaskan dalam Alquran berikut:

أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ ٣٧ ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ ٣٨ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ٣٩  أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ٤٠

  1. Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)
  2. kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya
  3. lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan
  4. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati[23]

Ayat lain juga mnejelaskan air mani yang memancar yakni:

أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ (58) أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ (59)

  1. Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan.
  2. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?[24]

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ (5) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (6) يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ (7)

  1. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan
  2. Dia diciptakan dari air yang dipancarkan
  3. yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan[25]

 

Penyebab keluar madzi karena syahwat atau rasa birahi tinggi kepada makhluk lain atau dorongan diri sendiri, cukup basuh kain yang kena dengan segenggam air lalu engkau usap pakaianmu di bagian yang kau lihat terkena.

 

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ عُبَيْدِ بْنِ السَّبَّاقِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ قَالَ كُنْتُ أَلْقَى مِنْ الْمَذْيِ شِدَّةً فَكُنْتُ أُكْثِرُ الِاغْتِسَالَ مِنْهُ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّمَا يُجْزِئُكَ مِنْهُ الْوُضُوءُ فَقُلْتُ كَيْفَ بِمَا يُصِيبُ ثَوْبِي فَقَالَ يَكْفِيكَ أَنْ تَأْخُذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَتَمْسَحَ بِهَا مِنْ ثَوْبِكَ حَيْثُ تَرَى أَنَّهُ أَصَابَ

(AHMAD – 15406) : Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrohim berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku Sa’id bin ‘Ubaid Bin As-Sabaq dari Bapaknya dari Sahal bin Hunaif berkata; Saya mengeluarkan madzi karena tingginya hasratku, hingga menyebabkan banyak mandi. Saya bertanya Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam tentang hal itu. Beliau bersabda: “Cukup bagimu berwudlu”. Saya bertanya, Bagaimana dengan pakaianku yang terkena itu? beliau bersabda: “Cukuplah engkau ambil segenggam air lalu engkau usap pakaianmu di bagian yang kau lihat terkena”[26]

Kualitas sanad hadis di atas adalaha hasan datnay sebagai berikut:

( سنن الترمذي )115 حدثنا هناد حدثنا عبدة عن محمد بن إسحق عن سعيد بن عبيد هو ابن السباق عن أبيه عن سهل بن حنيف قال كنت ألقى من المذي شدة وعناء فكنت أكثر منه الغسل فذكرت ذلك لرسول الله صلى الله عليه وسلم وسألته عنه فقال إنما يجزئك من ذلك الوضوء  قلت يا رسول الله كيف بما يصيب ثوبي منه قال يكفيك أن تأخذ كفا من ماء فتنضح به ثوبك حيث ترى أنه أصاب منه قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح ولا نعرفه إلا من حديث محمد بن إسحق في المذي مثل هذا وقد اختلف أهل العلم في المذي يصيب الثوب فقال بعضهم لا يجزئ إلا الغسل وهو قول الشافعي وإسحق وقال بعضهم يجزئه النضح و قال أحمد أرجو أن يجزئه النضح بالماء .تحقيق الألباني :حسن ، ابن ماجة ( 506 )[27]

Jika tidak ada air lagi keluar madzi maka cukup tayammum

 

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ عَطَاءٍ عَنْ عَائِشِ بْنِ أَنَسٍ سَمِعَهُ مِنْ عَلِيٍّ يَعْنِي عَلَى مِنْبَرِ الْكُوفَة كُنْتُ أَجِدُ الْمَذْيَ فَاسْتَحْيَيْتُ أَنْ أَسْأَلَهُ أَنَّ ابْنَتَهُ عِنْدِي فَقُلْتُ لِعَمَّارٍ سَلْهُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ يَكْفِي مِنْهُ الْوُضُوءُ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ قَالَ ثَنَا يُونُسُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ أَنَّ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ الرُّخْصَةَ الَّتِي أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الصَّعِيدِ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ إِنَّهُمْ ضَرَبُوا أَكُفَّهُمْ فِي الصَّعِيدِ فَمَسَحُوا بِهِ وُجُوهَهُمْ مَسْحَةً وَاحِدَةً ثُمَّ عَادُوا فَضَرَبُوا فَمَسَحُوا أَيْدِيَهُمْ إِلَى الْمَنَاكِبِ وَالْآبَاطِ

(AHMAD – 18135) : Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru dari ‘Atha` dari A`isy bin Anas ia mendengarnya dari Ali yakni di atas mimbar Kufah; Saya mendapatkan madzi yang keluar, lalu saya malu untuk menanyakannya pada beliau, sebab anak beliau adalah isteriku. Lalu saya berkata kepada Ammar, “Tanyakanlah pada beliau.” Ia menanyakannya, ia pun menjawab: “Baginya cukup berwudlu.” Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bahwa Ammar bin Yasir menceritakan; Bahwa rukhshah yang diturunkan Allah ‘azza wajalla untuk bersuci dengan debu. Lalu ia pun menyebutkan hadits. Hanya saja ia mengatakan; “Sesungguhnya mereka menepukkan telapak-telapak tangan mereka di atas hamparan debu, lalu membasuhkannya pada wajah-wajah mereka sekali basuh. Kemudian mereka mengulanginya lagi, dan membasuhkannya pada bahu dan pundak-pundak mereka.”[28]

Analisis

  1. Keluar madzi wajib dibasuh badan dan kain yang kena madzi. Kemudian berwudu’
  2. Jika kesulitan berwudu’ maka boleh tayammum, jika da penyebab yang udzur memamkai air
  3. Demikian juga pengganti wudu’ dan mandi adalah tayammum, jika da penyebab yang udzur memamkai air

 

Habis mani adalah madzi wudu’lah maka makanlah, demikian juga wanita haid makan bersamalah dengan mereka

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ مُعَاوِيَةَ يَعْنِي ابْنَ صَالِحٍ عَنِ الْعَلَاءِ يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ عَنْ حَرَامِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ عَمِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَّا يُوجِبُ الْغُسْلَ وَعَنْ الْمَاءِ يَكُونُ بَعْدَ الْمَاءِ وَعَنْ الصَّلَاةِ فِي بَيْتِي وَعَنْ الصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ وَعَنْ مُؤَاكَلَةِ الْحَائِضِ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي مِنْ الْحَقِّ وَأَمَّا أَنَا فَإِذَا فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَذَكَرَ الْغُسْلَ قَالَ أَتَوَضَّأُ وُضُوئِي لِلصَّلَاةِ أَغْسِلُ فَرْجِي ثُمَّ ذَكَرَ الْغُسْلَ وَأَمَّا الْمَاءُ يَكُونُ بَعْدَ الْمَاءِ فَذَلِكَ الْمَذْيُ وَكُلُّ فَحْلٍ يُمْذِي فَأَغْسِلُ مِنْ ذَلِكَ فَرْجِي وَأَتَوَضَّأُ وَأَمَّا الصَّلَاةُ فِي الْمَسْجِدِ وَالصَّلَاةُ فِي بَيْتِي فَقَدْ تَرَى مَا أَقْرَبَ بَيْتِي مِنْ الْمَسْجِدِ وَلَأَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُصَلِّيَ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَلَاةً مَكْتُوبَةً وَأَمَّا مُؤَاكَلَةُ الْحَائِضِ فَآكِلْهَا

 

(AHMAD – 18236) : Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Mu’awiyah yakni Ibnu Shalih, dari Al Ala` yakni Ibnul Harits, dari Haram bin Hakim dari pamannya, Abdullah bin Sa’d bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai hal apa saja yang mewajibkan seseorang mandi. Kemudian tentang air yang keluar setelah keluarnya air mani, tentang shalat di rumahku, shalat di Masjid, dan tentang makan bersama wanita yang sedang haid. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Adapun saya, jika melakukan ini dan itu, -beliau pun menyebutkan tentang mandi dan bersabda- saya berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat, kemudian saya mencucui kemaluanku -kemudian beliau menyebut tentang mandi-. Adapun air yang keluar setelah keluarnya mani, maka itu adalah Madzi, setiap laki-laki akan mengeluarkan madzi, karena itu, saya pun mencuci kemaluanku darinya, baru kemudian saya shalat. mengenai shalat di Masjid dan shalat di rumahku, maka kamu telah melihat betapa dekatnya rumahku dari Masjid, maka shalat di rumahku lebih aku sukai daripada shalat di Masjid, kecuali shalat wajib. Kemudian mengenai makan bersama orang yang haid, maka makanlah bersamanya.”[29]

Mencumbui isteri boleh sampai mengeluarkan madzi cukup wudu’ saja

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ قَالَ قَالَ لِي عَلِيٌّ سَلْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرَّجُلِ يُلَاعِبُ أَهْلَهُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَذْيُ مِنْ غَيْرِ مَاءِ الْحَيَاةِ فَلَوْلَا أَنَّ ابْنَتَهُ تَحْتِي لَسَأَلْتُهُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ يُلَاعِبُ أَهْلَهُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَذْيُ مِنْ غَيْرِ مَاءِ الْحَيَاةِ قَالَ يَغْسِلُ فَرْجَهُ وَيَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ

(AHMAD – 22691) : Telah bercerita kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya dari Al Miqdad bin Al Aswad berkata; ‘Ali berkata kepadaku; Tanyakan kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang mencumbu istrinya lalu keluar air madzi, bukan air mani, andai istriku bukan putri beliau pasti aku bertanya pada beliau. Aku berkata: Wahai Rasulullah, seseorang mencumbu istrinya lalu mengeluarkan air madzi, bukan air mani. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ia harus membasuh kelamuannya dan berwudlu seperti wudlu untuk shalat.”[30]

Kesimpulan

  1. Madzi keluar karena syahwat yang meninggi akibat cumbuan kepada isteri, menghayalkan kepada lawan jenis yang berkelanjutan, melihat gambar porno, menonton yang jelek, menggesek-gesek kemaluan,
  2. Akibat hukum yang bagi yang kelar madzi, membasuh kemaluan, buah pelirnya, anggota tubuh yang kena madzi, membasuh kain yang terkena madzi secepatnya jangan ditunda-tunda
  3. Setelah membesihkannya yang terkena, wajib berwudu’ seperti wudu’ hendak solat
  4. Jika keluar madzi kemudian diiringi mani, maka mani tersebut sebaiknya dibasuh serta madzinya, sekalipun mani bukan najis, tetapi kesulitan kita membedakan mana mani dan mana madzi, kemudian secepatnya mandi sebab keluar mani
  5. Sebaiknya dijauhkan diri penyebab keluar madzi kecuali karena mimpi yang tidak sempat mengeluarkan mani

 

Daftar Bacaan

Alquranul Karim

 

الكتاب : صحيح وضعيف سنن أبي داود المؤلف : محمد ناصر الدين الألباني مصدر الكتاب : برنامج منظومة التحقيقات الحديثية – المجاني – من إنتاج مركز نور الإسلام لأبحاث القرآن والسنة بالإسكندرية

الكتاب : صحيح وضعيف سنن أبي داود المؤلف : محمد ناصر الدين الألباني مصدر الكتاب : برنامج منظومة التحقيقات الحديثية – المجاني – من إنتاج مركز نور الإسلام لأبحاث القرآن والسنة بالإسكندرية

الكتاب : صحيح وضعيف سنن الترمذي المؤلف : محمد ناصر الدين الألباني مصدر الكتاب : برنامج منظومة التحقيقات الحديثية – المجاني – من إنتاج مركز نور الإسلام لأبحاث القرآن والسنة بالإسكندرية

الكتاب : صحيح وضعيف سنن النسائي المؤلف : محمد ناصر الدين الألباني مصدر الكتاب : برنامج منظومة التحقيقات الحديثية – المجاني – من إنتاج مركز نور الإسلام لأبحاث القرآن والسنة بالإسكندرية  

 

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist Abu Dawud

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist al-Bukhori

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist an-Nasai

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist at-Tirmidzi

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist Ibn Majah

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist Malik Muwattho’

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist Muslim

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist Musnad Ahmad

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist Sunan ad-Darimi

URL www.wikipedia.org

 

[1] URL www.wikipedia.org

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] QS, al-Baqoroh, 2:222

[6] Sumber : Abu Daud Kitab : Thaharah Bab : Mendatangi (mensetubuhi) wanita haid No. Hadist : 230,  http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=abudaud&nohdt=230

[7] [ مختصر إرواء الغليل – الألباني ] الكتاب : مختصر إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل المؤلف : محمد ناصر الدين الألباني الناشر : المكتب الإسلامي – بيروت الطبعة : الثانية – 1405 – 1985 عدد الأجزاء : 1 (الكتاب مستل من الإرواء والصفحات مرقمة آليا) ج 1 ص 40

 

[8] Ibid

[9] Sumber : Bukhari Kitab : Ilmu Bab : Orang yang malu bertanya lalu menyuruh orang lain untuk bertanya  No. Hadist : 129, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=bukhari&nohdt=129

[10] الكتاب : صحيح وضعيف سنن أبي داود المؤلف : محمد ناصر الدين الألباني مصدر الكتاب : برنامج منظومة التحقيقات الحديثية – المجاني – من إنتاج مركز نور الإسلام لأبحاث القرآن والسنة بالإسكندرية ج 1 ص 284

 

[11] Sumber : Bukhari Kitab : Berpegang teguh terhadap kitab dan sunnah Bab : Larangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terhadap sesuatu menunjukan akan keharamannya
No. Hadist : 6819, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=bukhari&nohdt=6819

[12] Sumber : Muslim Kitab : Haid Bab : Madzi  No. Hadist : 458, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=muslim&nohdt=458

[13] الكتاب : صحيح وضعيف سنن النسائي المؤلف : محمد ناصر الدين الألباني مصدر الكتاب : برنامج منظومة التحقيقات الحديثية – المجاني – من إنتاج مركز نور الإسلام لأبحاث القرآن والسنة بالإسكندرية  ج2 ص 82

[14] Sumber : Abu Daud Kitab : Thaharah Bab : Madzi No. Hadist : 178, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=abudaud&nohdt=178

[15] Sumber : Abu Daud Kitab : Thaharah Bab : Madzi No. Hadist : 179, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=abudaud&nohdt=179

[16] الكتاب : صحيح وضعيف سنن أبي داود المؤلف : محمد ناصر الدين الألباني مصدر الكتاب : برنامج منظومة التحقيقات الحديثية – المجاني – من إنتاج مركز نور الإسلام لأبحاث القرآن والسنة بالإسكندرية ج1 ص 286

[17] Sumber : Abu Daud Kitab : Thaharah Bab : Madzi No. Hadist : 180, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=abudaud&nohdt=180

[18] Sumber : Abu Daud Kitab : Thaharah Bab : Madzi No. Hadist : 181, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=abudaud&nohdt=181

[19] Sumber : Tirmidzi Kitab : Sifat qiamat, penggugah hati dan wara’ Bab : LAIN2
No. Hadist : 2442, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=tirmidzi&nohdt=2442

[20] Sumber : Tirmidzi Kitab : Bersuci Bab : Mani dan Wadhi No. Hadist : 106, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=tirmidzi&nohdt=106

[21] Sumber : Malik Kitab : Tohharah Bab : Wudhu” karena madzi
No. Hadist : 77, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=malik&nohdt=77

[22]Sumber : Ahmad Kitab : Musnad sepuluh sahabat yang dijamin masuk surge Bab : Musnad Ali bin Abu Thalib Radliyallahu ‘anhu  No. Hadist : 826, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=ahmad&nohdt=826

[23] QS, al-Qiyamah, 75:37-40

[24] QS, al-Waqi’ah, 56:58-59

[25] QS, ath-Thoriq, 86:5-7

[26] Sumber : Ahmad Kitab : Musnad penduduk Makkah Bab : Hadits Sahl bin Hunaif Radliyallahu ta’ala ‘anhu No. Hadist : 15406, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=ahmad&nohdt=15406

[27] الكتاب : صحيح وضعيف سنن الترمذي المؤلف : محمد ناصر الدين الألباني مصدر الكتاب : برنامج منظومة التحقيقات الحديثية – المجاني – من إنتاج مركز نور الإسلام لأبحاث القرآن والسنة بالإسكندرية ج1 ص 115

 

[28] Sumber : Ahmad Kitab : Musnad penduduk Kufah Bab : Hadits ‘Ammar bin Yasir Radliyallahu ta’ala ‘anhu  No. Hadist : 18135, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=ahmad&nohdt=18135

[29] Sumber : Ahmad Kitab : Musnad penduduk Kufah Bab : Hadits ‘Abdullah bin Sa’d Radliyallahu ‘anhuNo. Hadist : 18236, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=ahmad&nohdt=1823

[30] Sumber : Ahmad Kitab : Sisa musnad sahabat Anshar Bab : Hadits Al Miqdad bin Al Aswad Radliyallahu ‘anhu  No. Hadist : 22691, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=ahmad&nohdt=22691


Leave a comment

Your email address will not be published.

*