Home » jurnal » Analisis Muharrom Dalam Alquran dan Hadis

Analisis Muharrom Dalam Alquran dan Hadis

Analisis Muharrom Dalam Alquran dan Hadis

Drs. Dame Siregar

Pendahuluan

Masalah muharrom bukan maslah spele untuk diketahui oleh setiap umat Islam maupun nonmuslim. Di mana seorang muslim jangan terjadi pernikahan yang muharrom yang nonmuslim sebelumnya. Sebelum menyelenggarakan pernikahan kepada nonmuslim dengan syarat muslim dahulu, wajib ditanya dari sudut keturunannya apakah ada hubungan muharrom antara colon suami dengan isteri. Harapan yang sangat dituntun dalam tulisan ini adalah menyampaikan kepada seluruh umat Islam, mengetahui siapa siapa muharromnya (haram dinikahi) Abadan selamnay dan muharrom muwaqqot (ada batasan waktunya) serta kaitannya dengan batal wudu’nya jika bersintuhan.

Pembahasan

Wanita yang dinikahi Ayah dan belum dicampurinya kemudian ayah ceraikan

Alquran telah menjelaskan masalah ini secara rinci namun masih perlu memahaminya dari isi kandungannya.Dalil muharrom dalam Alquran sebagai berikut:

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا (22)

  1. Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).[1]

Penjelasan

  1. Maksud wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu adalah yang sudah dicampurinya
  2. Jika belum belum dicampuri Ayah maka boleh dinikahi anak kadung
  3. Analisisnya kata ما نكح artinya apa (tidak berakal)dalam bahasa Arab bukan siapa
  4. Karena bahasa yang berakal adalah من artinya siapa
  5. Dalam diri wanita yang tidak berakal maknaya nikah (wati atau senggama) adalah faraj atau vaginanya. Berarti jangan kamu nikahi wanita yang sudah disenggamai oleh ayah kandungmu
  6. Dalam ayat tersebut bentuk jama’ dari أب yaitu kata آَبَاؤُكُمْ arti bahasanya adalah ayah, namun temasuk di dalamnya kakek saampai ke atas maksudnya wanita yang sudah dicampurinya

Muharrom Abadan dan Muwaqqot

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (23)

  1. Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan[281]; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

281]. Maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. Dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. Sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya.[2]

Muharrom abadan adalah muharrom selamanya tidak boleh dinikahi kecauali muharrom muwaqqot (mengumpul dua yang bersadari) dan atau mengumpul bersama dengan putri saudara kandung isteri.

Penejelasan Muharrom

  1. Ibu-ibumu; (ibu kandung dan Ibu tiri yang syah secara syar’i) jika poligami ayah sampai 4 , kecuali akibat wafat diceraikan secara syar’i, maka tidak terbatas. Termasuk didalamnya nenek/sudari kandung, seayah atau seibunya dari pihak Ibu dari pihak ayah ke atas

Nabi sendiripun maksimal isterinya 9 orang, tidak boleh ditambahinya,kemudian isterinya tidak boleh menikah setelah beliau wafat dalilnya sebagai berikut:

لَا يَحِلُّ لَكَ النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ وَلَا أَنْ تَبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَاجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ إِلَّا مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا (52)

  1. Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan- perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu[1227].

1227]. Nabi tidak dibolehkan kawin sesudah mempunyai isteri-isteri sebanyak yang telah ada itu dan tidak pula dibolehkan mengganti isteri-isterinya yang telah ada itu dengan menikahi perempuan lain.[3]

Isteri Rosul tidak menikah kembali seseudah beliau wafat dalilnya sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا (53)

  1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya)[1228], tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.

(1228]. Maksudnya, pada masa Rasulullah s.a.w pernah terjadi orang-orang yang menunggu-nunggu waktu makan Rasulullah s.a.w. lalu turun ayat ini melarang masuk rumah Rasulullah untuk makan sambil menunggu-nunggu waktu makannya Rasulullah.[4]

  1. Anak-anakmu yang perempuanyang syah ibunya kamu nikahi, bukan anak zina, Pezina goiru muhson atau belum menikah, mereka nikah setelah didera 100 kali dan diasingkan satu tahun, kemudian Jika terjadi zina wanita tidak hamil atau hamil, maka jangan nikahkan sebelum didera 1 00 kali dan  diasingkan 1 tahun, jika belum ada undang-undang di satu negaranya maka minimal ditunda saja pernikahan minimal 1 tahun. Keculai. Gunanya agar hukuman tidak dinikahkan menjerakan pengikutnya, serta terjaminnya keadilan hokum jika berzina itu antara sesama muharrom dengan selain muharrom, antara yang hamil atau tidak hamil

Kasuistik

  1. Jika bole dinikahkan pezina, pada hal anak benar atau syah adalah melalui akad nikah, tentu anak zina tersebut bukan muharrom jika tidak jadi dinakahi laki-laki penzinany
  2. Jika jadi dinikahi wanita yang dizinanya maka anak zinanya menjadi muharromnya dari segi (anak tiri), namun tidak berhak menjadi wali saat nikah jika anak tersebut wanita, kecauli ayah biologisnya itu menjadi KAKUA atau P-3 N di tempatnya
  3. Wajib disampaikan oleh si wanita tadi bahwa dia adalah binti Ibunya dalam kTP dan Ijazah seharusnya
  4. Kasus hukum di Indonesia yang tercantum dalam KHI, boleh dinikahkan dengan syarat laki-laki yang menzinanya menjadi suaminya
  5. Jika sudah terlanjur menikah anak belum lahir, maka seharusnya nikah akad baru, demi menjaga hukum yang masih ragu yang pertama (tinggalkan yang ragu kepada hukum yang tidak ragu
  6. Zina muhson (Sudah menikah) tidak ada jalan boleh dinikahkan karena wajib dirojam hukum mati
  7. Wallohu a’lam kasus hukum di Indonesia, manyamakan hokum perzina antara muhson dan goiru muhson
  8. Demikian juga tidak ada hukuman pezina belum menikah, yang ada hukuman yang sudah menikah, mungkin hokum ini penyebab semakin semaraknya perzinaan di Indonesia
  9. Maka timbul perzinaan di bawah umur, lesbian, homosek biseksual (sek ganda)dan teransgender (robah kelamin)
  10. Karena belum ada hukumannya yang pasti
  11. Solusinya tentu lakukan hukuman kriminal atau jarimah/jinayah/hudud
  12. Saudara-saudaramu yang perempuan, (maksudnya saudara sekandung, seibu atau seayah saja), baik dia anak zina atau tidak atau nonmuslim jika mau dia masuk Islam haram dinikahi
  13. Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; (maksudnya saudara sekandung, seibu atau seayah) baik dia anak zina atau tidak atau nonmuslim, jika mau dia masuk Islam haram dinikahi
  14. Saudara-saudara ibumu yang perempuan (kakak atau adek sekandung, seibu atau seayahnya) baik dia anak zina atau tidak atau nonmuslim jika mau dia masuk Islam haram dinikahi
  15. Anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; (abang atau adek sekandung, seibu atau seayah) sampai keturunan ke bawah
  16. Anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; (kakak atau adek sekandung, seibu atau seayah), sampai keturunan ke bawah, baik dia anak zina atau tidak atau nonmuslim jika mau dia masuk Islam haram dinikahi
  17. Ibu-ibumu yang menyusui kamu; (hanya khusus Ibu susu, saudaranya tidak termasuk muharrom), namun jika anak perempuan yang menyusu tersebut, maka suami ibu tersebut menjadi muharromnya
  18. Saudara perempuan sepersusuan; (saudari kandungnya dan saudari seibunya, saudari seayah tidak muharrom)
  19. Ibu-ibu isterimu (mertua); (maksudnya ibu kandung dan Ibu tiri isteri kita) juga nenek kandung dari ayah dan ibunya ke atas. Adek dan kakak mertua perempuan bukan muharrom
  20. Anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campuri (tetapi kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya
  21. Diharamkan bagimu isteri-isteri anak kandungmu (menantu)
  22. Menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau

Komentar Poin 13

  1. Mudah saudari minta cerai karena ada saudarinya yang memelihara anaknya jika dia tinggalkan atau merasa aman kelangsungan hidup anaknya yang dia tinggalkan bersama suami dan adeknya
  2. Perasaan diremehkan orangtua isteri karena 2 putri cuma 1 menantu laki-laki seolah-olah anaknya tidak laku kepada laki-laki lain
  3. Kemungkinan besar ada ocehan orang lain, kenapa dikasihnya putrinya kepada 1 laki-laki saja, bahkan akan ada penilaian negatif bahwa putrinya berbuat yang salah dengan abang atau adek iparnya
  4. Diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami

Komentar

  1. Jika seorang wanita masih bersuami yang halal dan resmi, maka perempuan tersebut menjadi muharrom bagi laki-laki lain
  2. Wanita tidak mampu poliandri (satu isteri banyak suami)
  3. Karena rahim wanita tidak mampu menerima 2 macam mani laki-laki, akan menimbulkan penyakit, serta kita tidak tahu siapa ayah kandungnya
  4. Demikian juga isteri yang masih dalam iddah rojai atau bain sugro atau kubro, atau iddah wafat 4 bulan 10 hari bulan qomariyyah = 130 hari
  5. Berdasarkan ayat ini, tidak ada hubungan batal atau tidak bersintuhan dengan muharrom, jika ada bagaimana kita menyintuh isteri orang lain batal atau tidak, jawabnya batal jika ada rasa birahinya, jka tidak ada maka tidak batal
  6. Jika ada rasa sir atau faktor ketegangan bagi zakar laki-laki akibat bersintuhannya maka batal walaupun kepada muharromnya
  7. Sebaliknya jika bersintuhan dengan wanita namun tidak ada rasa birahi, baik sesama muharrom atau selainnya maka tidak batal wudu’nya
  8. Selanjutnya jika ada bersintuhan sengaja atau tidak, namun yang menyintuh dan tersintuh ada rasa birahi timbul maka keduanya batal, baik sesama laki-laki atau sama wanita. Demikian terhadap anak-anak, yang hidup, mati, hewan, lobang, buah-buahan, melihat hewan sedang kawin, gambar porno atau tidak, sintuhan kain (maksud suroh al-Maidah ayat 6) او لا مستم النساء artinya kamu laki-laki batal wudu’mu jika kamu menyintuh wanita. Wanita yang disintuh tidak batal jika tidak ada rasa birahi akibat sintuhan laki-laki atau perempuan
  9. Haram hukumnya Salaman wanita dengan laki-laki yang bukan muharrom, kecuali isteri dan hambanya dalilnya:

حَدَّثَنَا مَحْمُودٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَايِعُ النِّسَاءَ بِالْكَلَامِ بِهَذِهِ الْآيَةِ { لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا } قَالَتْ وَمَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَ امْرَأَةٍ إِلَّا امْرَأَةً يَمْلِكُهَا

(BUKHARI – 6674) : Telah menceritakan kepada kami Mahmud telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Urwah dari Aisyah radliallahu ‘anha, mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Shallallahu’alaihiwasallam membaiat wanita cukup dengan lisan (tidak berjabat tangan) dengan ayat ini; ‘Untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun….’ sampai akhir (QS. al-Mumtahanah 12) kata Aisyah; Tangan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah menyentuh wanita selain wanita yang beliau miliki (isterinya)

Penguat

Bahkan hadis berikut Nabi tidak mau jabat tangan dengan siapapun kecauli terhadap laki-laki:

 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا أَبُو قَطَنٍ أَخْبَرَنَا مُبَارَكٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَا رَأَيْتُ رَجُلًا الْتَقَمَ أُذُنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُنَحِّي رَأْسَهُ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ هُوَ الَّذِي يُنَحِّي رَأَسَهُ وَمَا رَأَيْتُ رَجُلًا أَخَذَ بِيَدِهِ فَتَرَكَ يَدَهُ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ هُوَ الَّذِي يَدَعُ يَدَهُ

(ABUDAUD – 4161) : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’ berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Qathn berkata, telah mengabarkan kepada kami Mubarak dari Tsabit dari Anas ia berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang sedang berbisik dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau menjauhkan kepalanya, sehingga orang tersebut-lah yang menjauhkan sendiri kepalanya. Dan aku juga tidak pernah melihat seorang pun yang menjabat tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau melepas tangannya, sehingga orang tersebut-lah yang melepaskan tangannya sendiri.”[5]

 

Setiap ketemu dengan laki-laki dia jabat tangan dan saling meminta ampun dalilnya:

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ عَنْ أَبِي بَلْجٍ عَنْ زَيْدٍ أَبِي الْحَكَمِ الْعَنَزِيِّ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ فَتَصَافَحَا وَحَمِدَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَاسْتَغْفَرَاهُ غُفِرَ لَهُمَا

(ABUDAUD – 4535) : Telah menceritakan kepada kami Amru bin Aun berkata, telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Abu Balj dari Zaid Abul Hakam Al Anbari dari Al Bara bin Azib ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika dua orang bertemu kemudian saling berjabat tangan dan memuji Allah serta meminta ampun kepada-Nya, maka keduanya akan diberi ampunan.”[6]

Nabi menjabat tangan  dan memeluk sahabatnya apabila berjumpa:

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ يَعْنِي خَالِدَ بْنَ ذَكْوَانَ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ بُشَيْرِ بْنِ كَعْبٍ الْعَدَوِيِّ عَنْ رَجُلٍ مِنْ عَنَزَةَ أَنَّهُ قَالَ لِأَبِي ذَرٍّ حَيْثُ سُيِّرَ مِنْ الشَّامِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَسْأَلَكَ عَنْ حَدِيثٍ مِنْ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذًا أُخْبِرُكَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ سِرًّا قُلْتُ إِنَّهُ لَيْسَ بِسِرٍّ هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَافِحُكُمْ إِذَا لَقِيتُمُوهُ قَالَ مَا لَقِيتُهُ قَطُّ إِلَّا صَافَحَنِي وَبَعَثَ إِلَيَّ ذَاتَ يَوْمٍ وَلَمْ أَكُنْ فِي أَهْلِي فَلَمَّا جِئْتُ أُخْبِرْتُ أَنَّهُ أَرْسَلَ لِي فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ عَلَى سَرِيرِهِ فَالْتَزَمَنِي فَكَانَتْ تِلْكَ أَجْوَدَ وَأَجْوَدَ

(ABUDAUD – 4538) : Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad berkata, telah mengabarkan kepada kami Abul Husain -maksudnya Abul Husain Khalid bin Dzakwan- dari Ayyub bin Busyair bin Ka’b Al Adawi dari seorang laki-laki penduduk Anazah bahwasanya ia berkata kepada Abu Dzar saat keluar dari Syam, “Aku ingin bertanya kepadamu tentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Abu Dzar berkata, “Aku akan memberitahukan kepadamu kecuali tentang rahasia (Rasulullah).” Aku menjawab, “Bukan hal rahasia yang aku tanyakan, tetapi apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjabat tangan saat kalian berjumpa dengan beliau?” Abu Dzar berkata: “Aku tidak pernah berjumpa dengan beliau kecuali beliau menjabat tanganku. Suatu hari beliau mengutus utusan kepadaku saat aku tidak ada di rumah, ketika kembali ke rumah aku diberi kabar bahwa beliau telah mengutus seorang utusan kepadaku. Maka aku mendatanginya saat beliau berada di atas pembaringan, lantas beliau memelukku. Maka pelukan itu lebih indah, dan lebih indah.”[7]

Rosul tidak mau jabat tangan dengan wanita

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ أَنَّهُ سَمِعَ مُحَمَّدَ بْنَ الْمُنْكَدِرِ قَالَ سَمِعْتُ أُمَيْمَةَ بِنْتَ رُقَيْقَةَ تَقُولُ جِئْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نِسْوَةٍ نُبَايِعُهُ فَقَالَ لَنَا فِيمَا اسْتَطَعْتُنَّ وَأَطَقْتُنَّ إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ

(IBNUMAJAH – 2865) : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah bahwa ia mendengar Muhammad bin Al Munkadir berkata; Aku mendengar Umaimah binti Ruqaiqah, ia berkata; “Aku bersama beberapa wanita lain menemui Nabi untuk berbai’at.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami: ‘Apa yang kalian mampu untuk melaksanakannya. Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita.’[8]

Membungkuk badan salah dan memeluk tidak boleh, hanya berjabat tangan yang boleh dalilnya sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّدُوسِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ لَا قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لَا وَلَكِنْ تَصَافَحُوا

(IBNUMAJAH – 3692) : Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Jarir bin Hazim dari Hanzhalah bin Abdurrahman As Sadusi dari Anas bin Malik dia berkata, “Kami berkata, “Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami harus membungkuk kepada sebagian yang lain?” Beliau menjawab: “Tidak.” Kami bertanya lagi, “Apakah sebagian kami boleh memeluk sebagian yang lain?” Beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi saling berjabat tanganlah kalian.”[9]

Fungsi jabat tangan

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مُسْلِمٍ عَبْدِ اللَّهِ الْخُرَاسَانِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَصَافَحُوا يَذْهَبْ الْغِلُّ وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا وَتَذْهَبْ الشَّحْنَاءُ

(MALIK – 1413) : Telah menceritakan kepadaku Malik dari ‘Atha bin Abu Muslim Abdullah Al Khurasani berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah kalian saling berjabat tangan, niscaya maka akan hilanglah kedengkian. Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya akan saling mencintai dan menghilanglah permusuhan.”[10]

 

Jabat tangan dengan Yahudi dan sejenisnya bukan batal wudu’

 

أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَمَّادٍ قَالَ سَأَلْتُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ مُصَافَحَةِ الْيَهُودِيِّ وَالنَّصْرَانِيِّ وَالْمَجُوسِيِّ وَالْحَائِضِ فَلَمْ يَرَ فِيهِ وُضُوءًا

(DARIMI – 1046) : Telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin ‘Aun telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hammad ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Ibrahim tentang berjabat tangan dengan seorang (yang beragama) yahudi, nashrani, majusi dan wanita yang haid, maka ia berpendapat tidak harus berwudhu (setelah berjabat tangan) “.[11]

Komentar

Maksud wanita haid yang boleh disintuh tentu wanita muharrom dengan syarat tidak ada rasa syahwat yang mengiringi sintuhan atau jabat tangan tersebut

  1. Kecuali budak-budak yang kamu miliki
  2. Budak atau wanita yang dapat di medan jihad perang pisik masih ada suaminya dengan pernikahan agama mereka, maka boleh kita nikahi, setelah diserahkan kepada pimpinan perang tersebut dan pimpinan menyerahkannya kepada tentara yang mennemukannya
  3. Iddahnya tentu sama dengan iddah wanita muslim, jika saat dapat dia sedang haid maka haidnya itu hitungan 1, tiggal 2 kali haid lagi
  4. Jika saat dapat dia bukan sedang haid, maka hitungan iddahnya awal setelah haid 1, 2 dan 3
  5. Jika sedang hamil tunggu sampai lahir
  6. Jika mati suaminya saat perang didapatkan dia, maka iddahnya 4 bulan 10 hari dari tanggal mati suaminya kamu bunuh
  7. Hal ini jika dismakan dengan iddah wnaita muslimah, nmaun jiuka ditemukan dalil masa haidnya maka ikuti hadis tersebut

 

Muharrom Isteri Ayah dan Isteri Anak kandung Dan Permasalahannya

 

(6) حدثنا ابن فضيل عن عبيدة عن إبراهيم قال : إذا تزوج الرجل المرأة فلم يدخل بها لم تحل لابيه.[12]

Ibn Fudail meriwayatkan dari ‘Ubaidah dari Ibrahim ia berkata: Apabila seorang lkai-laki menikahi wanita namun belum dicampurinya maka wanita tersebut tidak halal bagi ayah anak kandungnya

Berarti menantu perempuan dari isteri anak kadung, tidak boleh dikawani ayah kandung walaupun hanya akad nikah saja.

Riwayat al-Baihaqiy

 

2540- أَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ الْفَقِيهُ ، أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ الأَصَمُّ ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ الصَّغَانِيُّ ، ثنا أَبُو الأَسْوَدِ ، ثنا ابْنُ لَهِيعَةَ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ : أَيُّمَا رَجُلٍ نَكَحَ امْرَأَةً فَدَخَلَ بِهَا أَوْ لَمْ يَدْخُلْ فَلا يَحِلُّ لَهُ نِكَاحُ أُمِّهَا ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ نَكَحَ امْرَأَةً فَدَخَلَ بِهَا فَلا يَحِلُّ لَهُ نِكَاحُ ابْنَتِهَا ، فَإِنْ لَمْ يَدْخُلْ بِهَا فَلْيَنْكِحِ ابْنَتَهَا إِنْ شَاء[13]

Abu Thohir al-Faqih mengkhabarkan kepada kami, Abu al-‘Abbas mengkhabarkan kepada kami, Muhammad bin Ishaq ash-Shogoniy meriwayatkan kepada kami, Abu al-Aswad meriwayatkan kepada kami, Ibn Lahi’ah meriwayatkan kepada kami dari ‘Umar bin Syu’aib dari Ayahnya dan Kakeknya, sesungguhnya Rosululah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, siapa di antara laki-laki menikahi perempuan dan sudah dicampurinya atau tidak maka haram laki-laki menikahi ibu kandung perempuan tersebut. Siapa di antara laki-laki menikahi perempuan dan sudah dicampurinya maka haram menikahi anak perempuan yang dibawa Ibunya. Jika belum dicampurinya maka halal menikahi putri yang dibawanya.

Hadis di atas kualitas sanadnya adalah doif datanya sebagai berikut:

5050 – أيما رجل نكح امرأة فدخل بها فلا يحل له نكاح ابنتها فإن لم يكن دخل بها فلينكح ابنتها و أيما رجل نكح امرأة فدخل بها أو لم يدخل فلا يحل له نكاح أمها .تخريج السيوطي( ت ) عن ابن عمرو .تحقيق الألباني( ضعيف ) انظر حديث رقم : 2242 في ضعيف الجامع[14]

Riwayat al-Baihaqiy

2544- وَرُوِّينَا عن ابن عباس ، في قوله (وحلائل أبنائكم) وفي قوله : (ولا تنكحوا ما نكح آباؤكم) كل امرأة تزوجها أبوك أو ابنك دخل بها أو لم يدخل بها فهي عليك حرام[15]

Diriwayatkan keada kami dari Ibn ‘Abbas dalam menjelaskan ayat (وحلائل أبنائكم) artinya isteri anak kandungmu dan juga ayat (ولا تنكحوا ما نكح آباؤكم) artinya jangan nikahi wanita yang sudah dinikahi (sudah dicampuri bapak atau kakekmu), maksudnya setiap wanita yang dinikahi Bapak atau anak kandungmu dicampuri atai belum dicampurinya maka menjadi muharrom.

Hadis riwayat al-Baihaqiy nomor 2544 di atas bertentangan dengan suroh an-Nisa’ ayat 23 وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ (anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya)

Analisisnya

  1. Kata ما نكح maksudnya adalah wathi atau campur pendukungnya
  2. Suroh an-Nisa’ ayat 3 sebagai berikut:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi

  1. Berarti menikahi wanita yang janda tidak mungkin hnaya sekedar akad nikah, apalagi memiliki anak yatim, tentu sangat dituntut nikah benaran untuk dicampuri bukan sekedar gundik-gundikan
  2. Demikian juga kata menikahi hamba sahaya dengan memakai kata مَا, dalilnya pada suroh an-Nisa ayat 24 sebagai berikut:

إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

kecuali budak-budak yang kamu miliki

 

Penguat dari Jalur lain juga Riwayat al-Baihaqiy

14286- أَخْبَرَنَا أَبُو زَكَرِيَّا : يَحْيَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ الطَّرَائِفِىُّ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِىُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَلْحَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِى قَوْلِهِ ( وَلاَ تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ) وَقَوْلُهُ ( وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمْ) يَقُولُ : كُلُّ امْرَأَةٍ تَزَوَّجَهَا أَبُوكَ أَوِ ابْنُكَ دَخَلَ بِهَا أَوْ لَمْ يَدْخُلْ بِهَا فَهِىَ عَلَيْكَ حَرَامٌ.[16]

 

14301- أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ : أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُبْدُوسٍ وَأَبُو مُحَمَّدٍ الْكَعْبِىُّ قَالاَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ قُتَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ بُكَيْرِ بْنِ مَعْرُوفٍ عَنْ مُقَاتِلِ بْنِ حَيَّانَ قَالَ : كَانَ إِذَا تُوُفِّىَ الرَّجُلُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ عَمَدَ حَمِيمُ الْمَيِّتِ إِلَى امْرَأَتِهِ فَأَلْقَى عَلَيْهَا ثَوْبًا فَيَرِثُ نِكَاحَهَا فَيَكُونُ هُوَ أَحَقَّ بِهَا فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو قَيْسِ بْنُ الأَسْلَتِ عَمَدَ ابْنُهُ قَيْسٌ إِلَى امْرَأَةِ أَبِيهِ فَتَزَوَّجَهَا وَلَمْ يَدْخُلْ بِهَا فَأَتَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لَهُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ فِى قَيْسٍ (وَلاَ تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ) قَبْلَ التَّحْرِيمِ حَتَّى ذَكَرَ تَحْرِيمَ الأُمَّهَاتِ وَالْبَنَاتِ حَتَّى ذَكَرَ (وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ) قَبْلَ التَّحْرِيمِ (إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا) فِيمَا مَضَى قَبْلَ التَّحْرِيمِ.[17]

 

13690 – أخبرنا أبو زكريا يحيى بن إبراهيم أنبأ أبو الحسن الطرائفي ثنا عثمان بن سعيد الدارمي ثنا عبد الله بن صالح عن معاوية بن صالح عن علي بن أبي طلحة عن بن عباس في قول الله تعالى : ولا تنكحوا ما نكح آباؤكم من النساء وقوله وحلائل أبنائكم يقول كل امرأة تزوجها أبوك أو ابنك دخل بها أو لم يدخل بها فهي حرام عليك[18]

 

5115 – حدثنا أبي ، ثنا أبو صالح ، حدثني معاوية بن صالح ، عن علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس ، قوله : ( ولا تنكحوا ما نكح آباؤكم (1) ) يقول : كل امرأة تزوجها أبوك أو ابنك دخل أو لم يدخل بها ، فهي عليك حرام (1) سورة : النساء آية رقم : 22[19]

5116 – حدثنا أبي ، ثنا عمرو بن عون ، أنبأ خالد ، عن يونس ، عن الحسن ، في قوله : ( ولا تنكحوا ما نكح آباؤكم من النساء (1) ) قال : هو أن تملك عقدة النكاح وليس بالدخول (1) سورة : النساء آية رقم : 22[20]

 

5117 – حدثنا علي بن الحسين ، ثنا صفوان يعني ابن صالح وعبد الرحمن بن إبراهيم قالا : ثنا الوليد ، ثنا أبو بكر بن أبي مريم ، عن مشيخة ، قال : لا ينكح رجل امرأة جد أبي أمه ، لأنه من الآباء يقول الله تعالى : ( ولا تنكحوا ما نكح آباؤكم من النساء (1) )  (1) سورة : النساء آية رقم : 22[21]

 

Hukuman orang yang menikahi isteri ayah kandungnya

 

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ عَنْ أَشْعَثَ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ مَرَّ بِي خَالِي أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ وَمَعَهُ لِوَاءٌ فَقُلْتُ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةَ أَبِيهِ أَنْ آتِيَهُ بِرَأْسِهِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ قُرَّةَ الْمُزَنِيِّ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ الْبَرَاءِ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَقَدْ رَوَى مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَقَ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ الْبَرَاءِ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ أَشْعَثَ عَنْ عَدِيٍّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْبَرَاءِ عَنْ أَبِيهِ وَرُوِي عَنْ أَشْعَثَ عَنْ عَدِيٍّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْبَرَاءِ عَنْ خَالِهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(TIRMIDZI – 1282) : Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al Asyajj, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari Asy’ats dari ‘Adi bin Tsabit dari Al Bara` ia berkata; Pamanku Abu Burdah bin Niyar melewati di depanku dengan membawa sebuah bendera. Maka aku tanyakan; Mau kemana engkau? Ia menjawab; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku kepada seseorang yang menikahi isteri ayahnya untuk mendatangi dan memenggal kepalanya. Ia mengatakan; Dalam hal ini ada hadits serupa dari Qurrah Al Muzani. Abu Isa berkata; Hadits Al Bara` adalah hadits gharib dan Muhammad bin Ishaq telah meriwayatkan hadits ini dari ‘Adi bin Tsabit dari Abdullah bin Yazid dari Al Bara`. Hadits ini juga diriwayatkan dari Asy’ats dari ‘Adi dari Yazid bin Al Bara` dari ayahnya. Serta diriwayatkan juga dari Asy’ats dari ‘Adi dari Yazid bin Al Bara` dari pamannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.[22]

Penguat

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ السُّدِّيِّ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ لَقِيتُ خَالِي وَمَعَهُ الرَّايَةُ فَقُلْتُ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أَرْسَلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةَ أَبِيهِ مِنْ بَعْدِهِ أَنْ أَضْرِبَ عُنُقَهُ أَوْ أَقْتُلَهُ

(NASAI – 3279) : Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Usman bin Hakim, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Shalih dari As Suddi dari Adi bin Tsabit dari Al Barra`, ia berkata; saya berjumpa dengan pamanku, dan ia membawa bendera. Kemudian saya katakan; engkau hendak pergi kemana? Ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku kepada seorang laki-laki yang menikahi isteri ayahnya setelah kematiannya, agar saya penggal lehernya atau saya membunuhnya.[23]

Penguat

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ابْنُ أَخِي الْحُسَيْنِ الْجُعْفِيِّ حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مَنَازِلَ التَّيْمِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي كَرِيمَةَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةَ أَبِيهِ أَنْ أَضْرِبَ عُنُقَهُ وَأُصَفِّيَ مَالَهُ

(IBNUMAJAH – 2598) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman bin Akhi Al Husain Al Ju’fi, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Manazil At Ataimi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari Khalid bin Abu Karimah dari Mu’awiyah bin Qurrah, dari Bapaknya ia berkata, “Aku diutus oleh Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjumpai seorang laki-laki yang menikah dengan isteri ayahnya, agar aku memenggal lehernya dan menyita hartanya.”[24]

Penguat

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ صَالِحٍ عَنِ السُّدِّيِّ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ لَقِيتُ خَالِي وَمَعَهُ الرَّايَةُ فَقُلْتُ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةَ أَبِيهِ مِنْ بَعْدِهِ أَنْ أَضْرِبَ عُنُقَهُ أَوْ أَقْتُلَهُ وَآخُذَ مَالَهُ

(AHMAD – 17822) : Telah menceritakan kepada kami Waki’ Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Shalih dari As Sudi dari Adi bin Tsabit dari Al Baraa` ia berkata; Saya bertemu pamanku yang sedang membawa bendera (simbol perang, pent), maka saya pun bertanya, “Kemana kamu akan pergi?” ia menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku untuk menemui seorang laki-laki yang menikahi isteri bapaknya sepeninggalnya, lalu aku akan menebas lehernya dan mengambil hartanya.”[25]

Penjelasan

  1. Maksud memenggal leher dan menyita harta yang menikahi isteri ayahnya yang sudah wafat
  2. Maksudnya tentu isteri ayah yang sudah pernah di dukhulnya atau dicampurinya, bukan yang belum di dukhulnya
  3. Jadi memahami hadis di atas adalah mengkompromikan hadis yang sifatnya umum dengan hadis yang ada pengkhususannya, yaitu yang sudah wafat
  4. Dalam hadis-hadis di atas tidak ditemukan rincian, bahwa isterinya belum di dukhul atau tidak di dukhul ayahnya
  5. Namun secara kasus isteri yang meninggal, jika belum di dukhul tentu belum isteri Ayah
  6. Karena dalam ayat itu terdapat kata ما artinya apa (dipakai untuk istilah tidak berakal) yang tidak berakal dalam kata nikah adalah kemaluan atau setubuh bararti maksud kata nikah adalah yang sudah disetubuhi ayah, bukan dengan kata من artinya siapa (dipakai untuk istilah berakal, yang berakal dalam nikah adalah akad nikah, Karena ayang bisa menerima akad nikah adalah akal Ayah menerima atau tidak nikah isterinya dari wali isterinya)
  7. Analisis ini diperkuat dengan analisis suroh an-Nisa ayat 23, yaitu potongan ayat berikut:

وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ

anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya putrid yang dibawa isteri yang belum dicampuri

  1. Secara umum wanita yang dinikahi Ayah ada kata dicampuri atau tidak dicampuri
  2. Makanya kata ما adalah yang sudah dicampuri, karena kata yang dipakai untuk tidak berakal, bercampur kemaluan tidak ada akalnya yang ada nafsu birahinya, halal atau tidak sama saja rasanya oleh kemaluan baik gila atau anak kecil
  3. Jika belum dicampuri ayah isteri yang sudah dia terima akad nikahnya, kemudian dia ceraikan, berarti tidak ada iddahnya (suroh al-Baqoroh ayat 236-237)
  4. Maka ayah boleh menikahi putri kandung yang dibawa isteri yang diceraikan sebelum dia campuri ibunya
  5. Jika ayah boleh menikahi putri kandung tersebut, berarti anak kandung Ayah boleh menikahi isteri yang diceraikan ayah yang belum disetubuhinya
  6. Perlu dipahami bersama potongan ayat berikut:

وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ

(dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu)

  1. Dalam potongan ayat ini tidak dipersoalkan apakah yang sudah dicampuri anak kandung atau tidak seperti penjelasan wanita yang dinikahi ayah kandung
  2. Berarti isteri anak kandung sama sekali tidak boleh dinikahi ayah kandung baik belum atau sudah dicampuri anak, soalnya sudah terima akad nikah dengan secara syar’i

Analisis antara ayah kandung dengan anak kandung dan sebaliknya

  1. Isteri ayah kandung jika belum disetubuhinya, maka boleh dinikahi anak kandung, masih bersifat umum (suroh an-Nisa’ ayat 22)
  2. Maka dirinci kekhususannya pada ayat 23, hanya yang sudah dicampuri saja
  3. Isteri anak kandung haram bagi Ayah kandung dicampuri atau tidak
  4. Tetapi karena pengharamannya dengan kata وَحَلَائِلُ maksudnya yang sudah dihalalkan
  5. Penghalalan isteri adalah akad nikah yang sudah ijab kabul dan dua orang saksi di majelis akan nikah.dalilnya:
  6. Keumuman isteri anak kandung haram bagi ayah kandung, jika sudah disetubuhinya maka saudara kandung isteri muharrom muwaqqot bagi suami. Maksudnya boleh menikahi saudari kandung isteri, jika isteri wafat atau diceraikan dengan syar’i baik diceraikan sebelum dicampuri atau nelum dicampuri. Mengumpulkannya haram baik belum dicampuri atau belum, dalilnya potongan suroh an-Nisa’ ayat 23 berikut:

وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ

dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau

  1. Kata إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ artinya kecuali yang telah terjadi pada masa lampau sebelum turun ayat ini (an-Nisa’ ayat 23), sama halnya dengan pada suroh an-Nisa’ ayat 22 yaitu وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ َ artinya Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau

Kesimpulan

  1. Maksud dikawini adalah disetubuhi ayah (suroh an-Nisa’ ayat 22)
  2. Jika belum disetubuhi suami maka saudara kandung isteri boleh dinikahinya (suroh an-Nisa’ ayat 23)
  3. Akhirnya sama hak Ayah kandung dan Anak terhadap saudari kandung isteri anak yang belum dicampuri anak kandung sama-sama boleh dinikahi salah satu di antara mereka berdua
  4. Secara cermat dianalisa perbedaan larangan menikahi isteri ayah yang sudah disetubuhi dengan لا ناهية artinya larangan makna jangan nikahi (ayat 22 an-Nisa’)
  5. Larangan menikahi isteri anak وحلائل (isteri-isteri anak kandungmu) yang sudah dihalalkan dengan akad nikah
  6. Anak perempuan kandung yang dibawa isiteri ayah kandung, jika belum dicampuri ayah kadung, maka ayah kadung boleh menikahi anak perempuan itu. Berarti anak kandung boleh menikahi perempuan mantan isteri ayah kandung yang belum dicampurinya
  7. Maka sejalan jadinya ayat 22 dengan 23 pada suroh an- Nisa’
  8. Ayah dan anak kandung sama posisinya terhadap isteri orang lain dan hamba sahanya, menjadi muharrom mereka masing-masing
  9. Batal wudu’ jika diawali dengan sintuhan yang dibarengi dengan rasa birahi
  10. Demikian juga yang disintuh jika dia timbul rasa birahinya akibat sintuhan orang lain baik laki-laki, wanita, anak-anak, sesama muharrom atau selain muharrom, milihat pornografi, pornoaksi, binatang kawin, melihat gambar, sintuhan kainnya yang dipakai, menggesek kemaluan waluapun pakai lapis namun terbirahi, menghayal lawan jenis atau sejenis
  11. Kata ما digandeng dengan nikah maksudnya adalah wathi atau campur bukan hanya sekedar akad nikah

 

Daftar Bacaan

Al-quar al-Karim

الكتاب مرقم آليا غير موافق للمطبوع و أحاديث الكتاب مشكولة ] قام بتنسيقه و فهرسته أسامة بن الزهراء – عفا الله عنه – لملتقى أهل الحديث

سنن البيهقي الكبرى ] الكتاب :  سنن البيهقي الكبرى المؤلف : أحمد بن الحسين بن علي بن موسى أبو بكر البيهقي الناشر : مكتبة دار الباز – مكة المكرمة ، 1414 – 1994 تحقيق : محمد عبد القادر عطا عدد الأجزاء : 10

الطبعة : الأولى ـ 1344 هـ عدد الأجزاء : مصدر الكتاب : موقع وزارة الأوقاف المصرية وقد أشاروا إلى جمعية المكنز الإسلامي [ ملاحظات بخصوص الكتاب ] 1- مشكول. 2- موافق للمطبوع الجزء الأول فقط علماً بأن الكتاب الورقي يخلو من ترقيم للأحاديث 3- معنون 4-غير مقابل

الكتاب : السنن الصغرى المؤلف : أحمد بن الحسين بن علي بن موسى أبو بكر البيهقي مصدر الكتاب : ملفات وورد من ملتقى أهل الحديث http://www.ahlalhdeeth.com

الكتاب : السنن الصغرى المؤلف : أحمد بن الحسين بن علي بن موسى أبو بكر البيهقي مصدر الكتاب : ملفات وورد من ملتقى أهل الحديث http://www.ahlalhdeeth.com [ الكتاب مرقم آليا غير موافق للمطبوع و أحاديث الكتاب مشكولة ] قام بتنسيقه و فهرسته أسامة بن الزهراء – عفا الله عنه – لملتقى أهل الحديث

الكتاب : الكتاب : السنن الكبرى وفي ذيله الجوهر النقي المؤلف : أبو بكر أحمد بن الحسين بن علي البيهقي مؤلف الجوهر النقي: علاء الدين علي بن عثمان المارديني الشهير بابن التركماني المحقق : الناشر : مجلس دائرة المعارف النظامية الكائنة في الهند ببلدة حيدر آباد الطبعة : الأولى ـ 1344 هـ عدد الأجزاء : مصدر الكتاب : موقع وزارة الأوقاف المصرية وقد أشاروا إلى جمعية المكنز الإسلامي [ ملاحظات بخصوص الكتاب ] 1- مشكول. 2- موافق للمطبوع الجزء الأول فقط علماً بأن الكتاب الورقي يخلو من ترقيم للأحاديث 3- معنون 4-غير مقابل

الكتاب : الكتاب : السنن الكبرى وفي ذيله الجوهر النقي المؤلف : أبو بكر أحمد بن الحسين بن علي البيهقي مؤلف الجوهر النقي: علاء الدين علي بن عثمان المارديني الشهير بابن التركماني المحقق : الناشر : مجلس دائرة المعارف النظامية الكائنة في الهند ببلدة حيدر آباد

الكتاب : المصنف مصدر الكتاب : موقع يعسوب [ ترقيم الكتاب موافق للمطبوع ]

الكتاب : تفسير ابن أبي حاتم مصدر الكتاب : موقع جامع الحديث http://www.alsunnah.com [ الكتاب مرقم آليا غير موافق للمطبوع ]

الكتاب : تفسير ابن أبي حاتم مصدر الكتاب : موقع جامع الحديث http://www.alsunnah.com [ الكتاب مرقم آليا غير موافق للمطبوع ]

الكتاب : تفسير ابن أبي حاتم مصدر الكتاب : موقع جامع الحديث http://www.alsunnah.com [ الكتاب مرقم آليا غير موافق للمطبوع ]

لا تنسونا من الدعاء،،، فريق عمل الطيماوي. www.temawy.com

لا تنسونا من الدعاء،،، فريق عمل الطيماوي. www.temawy.com

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist Abu Dawud

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist al-Bukhori

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist an-Nasai

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist at-Tirmidzi

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist Ibn Majah

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist Malik Muwattho’

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist Muslim

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist Musnad Ahmad

Lidwa Pusaka i-Software – Kitab 9 Imam Hadist Sunan ad-Darimi

 

[1]QS, al-Baqoroh, 2:22

[2] QS, al-Baqoroh, 2:23

[3] QS, al-Ahzab, 33:52

[4] QS, al-Ahzab, 33:53

[5] Sumber : Abu Daud Kitab : Adab Bab : Menjalin hubungan yang baik No. Hadist : 4161, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=abudaud&nohdt=4161

[6] Sumber : Abu Daud Kitab : Adab Bab : Penjelasan tentang jabat tangan No. Hadist : 4535, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=abudaud&nohdt=4535

[7] Sumber : Abu Daud Kitab : Adab Bab : Penjelasan tentang berpelukanNo. Hadist : 4538, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=abudaud&nohdt=4538

[8] Sumber : Ibnu Majah Kitab : Jihad Bab : Baiatnya kaum wanita No. Hadist : 2865, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=ibnumajah&nohdt=2865

[9]Sumber : Ibnu Majah Kitab : Adab Bab : Berjabat tangan No. Hadist : 3692, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=ibnumajah&nohdt=3692

[10] Sumber : Malik Kitab : Lain-lain Bab : Mesngisolir kawan sejawat No. Hadist : 1413, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=malik&nohdt=1413

[11] Sumber : Ad Darimi Kitab : Kitab tahharah Bab : Wanita haidh menyisiri suaminya
No. Hadist : 1046,  http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=darimi&nohdt=1046

[12] الكتاب : المصنف مصدر الكتاب : موقع يعسوب [ ترقيم الكتاب موافق للمطبوع ] ج 3 ص 302

[13] الكتاب : السنن الصغرى المؤلف : أحمد بن الحسين بن علي بن موسى أبو بكر البيهقي مصدر الكتاب : ملفات وورد من ملتقى أهل الحديث http://www.ahlalhdeeth.com

[ الكتاب مرقم آليا غير موافق للمطبوع و أحاديث الكتاب مشكولة ] قام بتنسيقه و فهرسته أسامة بن الزهراء – عفا الله عنه – لملتقى أهل الحديث ج2 ص 229

[14] الكتاب : صحيح وضعيف الجامع الصغير المؤلف : محمد ناصر الدين الألبانيمصدر الكتاب : برنامج منظومة التحقيقات الحديثية – المجاني – من إنتاج مركز نور الإسلام لأبحاث القرآن والسنة بالإسكندرية ج 11 ص 497

[15] الكتاب : السنن الصغرى المؤلف : أحمد بن الحسين بن علي بن موسى أبو بكر البيهقي مصدر الكتاب : ملفات وورد من ملتقى أهل الحديث http://www.ahlalhdeeth.com [ الكتاب مرقم آليا غير موافق للمطبوع و أحاديث الكتاب مشكولة ] قام بتنسيقه و فهرسته أسامة بن الزهراء – عفا الله عنه – لملتقى أهل الحديث ج2 ص 229

[16] الكتاب : الكتاب : السنن الكبرى وفي ذيله الجوهر النقي المؤلف : أبو بكر أحمد بن الحسين بن علي البيهقي مؤلف الجوهر النقي: علاء الدين علي بن عثمان المارديني الشهير بابن التركماني المحقق : الناشر : مجلس دائرة المعارف النظامية الكائنة في الهند ببلدة حيدر آباد

الطبعة : الأولى ـ 1344 هـ عدد الأجزاء : مصدر الكتاب : موقع وزارة الأوقاف المصرية وقد أشاروا إلى جمعية المكنز الإسلامي [ ملاحظات بخصوص الكتاب ] 1- مشكول. 2- موافق للمطبوع الجزء الأول فقط علماً بأن الكتاب الورقي يخلو من ترقيم للأحاديث 3- معنون 4-غير مقابل

لا تنسونا من الدعاء،،، فريق عمل الطيماوي. www.temawy.com ج2 ص 222

[17] الكتاب : الكتاب : السنن الكبرى وفي ذيله الجوهر النقي المؤلف : أبو بكر أحمد بن الحسين بن علي البيهقي مؤلف الجوهر النقي: علاء الدين علي بن عثمان المارديني الشهير بابن التركماني المحقق : الناشر : مجلس دائرة المعارف النظامية الكائنة في الهند ببلدة حيدر آباد

الطبعة : الأولى ـ 1344 هـ عدد الأجزاء : مصدر الكتاب : موقع وزارة الأوقاف المصرية وقد أشاروا إلى جمعية المكنز الإسلامي [ ملاحظات بخصوص الكتاب ] 1- مشكول. 2- موافق للمطبوع الجزء الأول فقط علماً بأن الكتاب الورقي يخلو من ترقيم للأحاديث 3- معنون 4-غير مقابل

لا تنسونا من الدعاء،،، فريق عمل الطيماوي. www.temawy.com ج 2  ص 242

[18] [ سنن البيهقي الكبرى ] الكتاب :  سنن البيهقي الكبرى المؤلف : أحمد بن الحسين بن علي بن موسى أبو بكر البيهقي الناشر : مكتبة دار الباز – مكة المكرمة ، 1414 – 1994 تحقيق : محمد عبد القادر عطا عدد الأجزاء : 10 ج 7 ص 160

[19] الكتاب : تفسير ابن أبي حاتم مصدر الكتاب : موقع جامع الحديث http://www.alsunnah.com [ الكتاب مرقم آليا غير موافق للمطبوع ] ج 18 ص 47

[20] الكتاب : تفسير ابن أبي حاتم مصدر الكتاب : موقع جامع الحديث http://www.alsunnah.com [ الكتاب مرقم آليا غير موافق للمطبوع ] ج 18 ص 48

[21] الكتاب : تفسير ابن أبي حاتم مصدر الكتاب : موقع جامع الحديث http://www.alsunnah.com [ الكتاب مرقم آليا غير موافق للمطبوع ] ج 18 ص 49

[22] Sumber : Tirmidzi Kitab : Hukum-hukum  Bab : Menikahi isteri ayahnya No. Hadist : 1282, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=tirmidzi&nohdt=1282

[23] Sumber : Nasa’I Kitab : Penikahan Bab : Menikahi wanita yang dinikahi ayahnya
No. Hadist : 3279, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=nasai&nohdt=3279

[24] Sumber : Ibnu Majah Kitab : Hudud Bab : Barangsiapa menikahi mantan isteri bapaknya
No. Hadist : 2598, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=ibnumajah&nohdt=2598

[25] Sumber : Ahmad Kitab : Musnad penduduk Kufah Bab : Hadits Al Barra` bin ‘Azib Radliyallahu ta’ala ‘anhu  No. Hadist : 17822, http://localhost:5000/perawi_open.php?imam=ahmad&nohdt=17822


Leave a comment

Your email address will not be published.

*