Home » buletin » Beriman Tanpa Rasa Takut

Beriman Tanpa Rasa Takut

Oleh : Puji Kurniawan

iman

[dropcap]K[/dropcap] onsep kemajemukan disatu sisi menjadi aset kekayaan budaya bangsa, namun disisi lain kemajemukan menjadi momok munculnya potensi konflik di kalangan masyarakat. Keragaman agama, suku, budaya dan adat istiadat seringkali menjadi pemicu lahirnya fanatisme buta dan persaingan yang tidak sehat. Sikap proporsional dan saling menghargai menjadi salah satu modal terwujudnya kesalehan sosial-multikultral. Dalam bahasa Abdul Munir Mulkhan kesalehan multikultural adalah tindakan saleh berdimensi terbuka dan melampaui batas teritorial, seperti etnis, kebangsaan dan paham keagamaan. Keragaman agama, budaya dan suku bangsa semestinya menjadi kemaslahatan bagi semua pihak.

Komarudin Hidayat menilai bahwa keragaman pengalaman, pemaknaan dan ekspresi keberagamaan manusia, uniknya selalu disertai pengikut setia dengan pemihakan dan pembelaan emosional ketika agama di hina, direndahkan, dipinggirkan, bahkan dihina oleh kelompok lain. Oleh sebab itu diskusi tentang agama adalah bentuk dari “perdebatan yang tiada henti”.

Agama bisa menjadi buas di tangan manusia yang menjadikan agama sebagai doktrin atau idiologi tertutup, apalagi jika dijadikan sebagai senjata pembunuh. Padahal agama adalah penawar rasa dan penumbuh iman. Ia mampu membentuk pengertian serta cinta sesama yang mengangkat peradaban, demikian ungkapan Putu wijaya seorang budayawan Indonesia.

Munculnya agama dalam bentuk apa pun harus tetap menjadi kebutuhan umat manusia. Agama seyogianya bukan hanya dipahami sebagai doktrin saja, tetapi mengandung ajaran-ajaran yang menanamkan nilai-nilai sosial kepada para penganutnya. Dalam kerangka ini agama dijadikan pedoman, sehingga agama menciptakan keteraturan dalam masyarakat. Keterbukaan agama terhadap lingkungan sekitar akan menciptakan sebuah tatanan baru yang lebih inklusif. Islam diyakini sebagai agama universal untuk seluruh umat manusia tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Interaksi Islam dengan lingkungan sekitar merupakan upaya menjalin hubungan yang dinamis antara Islam dan nilai-nilai yang dipelihara dalam konteks kehidupan dan diwarisi serta dipandang sebagai pedoman hidup oleh masyarakat.

[highlight]Menurut John.R.Bowen dalam bukunya “Islam, Law and Equality in Indonesia” Keragaman penduduk Indonesia, baik dari ritual, adat istiadat, norma dan budaya tidak terlepas dari pengaruh dan doktrin agama [/highlight]. Berangkat dari pemikiran Edward. B. Tylor bahwa setiap kognisi manusia dipengaruhi oleh mentalitas agama. Agama berawal dari kepercayaan manusia terhadap spirit. Tylor juga mengungkapkan bahwa agama memberikan inspirasi dalam kehidupan masyarakat baik melalui agama formal maupun agama non formal. Clifford Geertz mengungkapkan bahwa agamabukan hanya sebatas spirit tetapi lebih kepada hubungan yang intens antara agama sebagai sumber nilai dan agama sebagai sumber kognitif. Dalam hal ini agama sebagai pola bagi tindakan manusia atau agama berfungsi sebagai pedoman dalam bertingkah laku.
[pullquote-left] Sebuah keyakinan beragama yang didalamnya terdapat sekian nilai, kepercayaan dan aturan normatif pasti akan mempengaruhi kehidupan seseorang baik dalam berpikir maupun bertindak [/pullquote-left] Sebuah keyakinan beragama yang didalamnya terdapat sekian nilai, kepercayaan dan aturan normatif pasti akan mempengaruhi kehidupan seseorang baik dalam berpikir maupun bertindak Dimana pun berada, orang yang taat beragama pasti imannya akan hadir dan memberi pertimbangan terhadap semua keputusan yang diambilnya. Dengan demikian yang disebut sekularisasi yaitu pemisahan agama dan non agama tidak mungkin terjadi bagi orang yang beriman mengingat nilai dan keyakinan agama senantiasa memberikan roh kehidupan.

Konflik yang sering terjadi di kalangan masyarakat dapat dikurangi dengan memperkuat dimensi etika dari tiap-tiap ajaran agama untuk membangun peradaban bersama baik pada tingkat lokal, nasional dan global. Mengingat setiap agama mengajarkan konsep etika sosial kemanusiaan, maka kerjasama antar agama bisa dibangun dari dimensi ini. Agama untuk manusia pada prinsipnya mengajarkan kasih sayang, menjungjung tinggi keadilan, mengajarkan etos kerja dan hidup produktif, anti korupsi dan kesemuanya itu semestinya menjadi tema bersama dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Namun ranah sosial ini sering ternodai dengan berbagai kepentingan kelompok politik dan golongan. Dalam situasi yang demikian semestinya agama menjadi kekuatan kontrol,tapi terkadang pesan agama kalah dengan kekuatan arus politik, bahkan agama bukan menjadi kekuatan kritik melainkan diperalat menjadi sumber justifikasi bagi pertarungan politik untuk merobohkan pesaingnya.

Fenomena keterlibatan agama dalam ruang publik, seperti sosial-politik juga memiliki landasan etis dan teologis. Jika agama memuat misi peradaban dalam menciptakan masyarakat yang adil, bukankah kekuatan politik sangat diperlukan? Begitu kira-kira salah satu argumen para aktifis politik mengapa agama dan politik tidak bisa dipisahkan. Mereka merujuk pada sejarah rasul yang berhasil membangun komunitas dan institusi

politik di Madinah di atas tradisi Jahiliyah.

Namun sebagian kelompok berpandangan bahwa warisan politik Nabi bukan merupakan doktrin Islam yang mesti diterima secara verbal, melainkan perlu dilihat dalam konteks sosial historis yang sangat memungkinkan untuk dilakukan interpretasi ulang, mengingat faktor sosio-historis ketika itu berbeda dengan kondisi kekinian yang kemungkinan bisa tidak tepat jika dibandingkan dengan kondisi waktu itu.

Selain Agama, secara Partikular, hak-hak legal memberikan jaminan bagi setiap warga negara memiliki status hukum yang setara, mendapatkan perlakuan yang sama, hak untuk berpartisifasi pada komunitas politik tertentu dan hak bagi setiap orang untuk mendapat jaminan perlindungan hukum. Habermes mengajarkan kita untuk selalu menempatkan kesepakatan legal-politis yang rasional sebagai sebuah otoritas yang lebih tinggi dari pada relasi etnis, suku maupun golongan. Hanya dengan kesadaran itu keanekaragaman pada setiap sisinya dapat hidup bersama secara stabil dan dinamis. Hal ini oleh Habermas disebut sebagai “patriotisme konstitusional”.

Mengingat kenyataan keaneka ragaman agama dan sosial-budaya, selalu dapat dijumpai dimana-mana, maka tak bisa tidak kehadiran konsep pluralisme sebagai model pengetahuan ataupun sebuah teori merupakan hal yang wajar adanya-. Jika dikaitkan dengan konteks keindonesiaan, keterpaduan antara keislamaman dan keindonesiaan sebagai perwujudan dari nilai-nilai Islam yang universal, berkaitan dengan tradisi lokal Indonesia. inilah yang selalu ditekankah oleh Nurcholish Madjid bahwa wawasan asasi berdasarkan keislaman pada hakikatnya menyatu dengan wawasan asasi keindonesiaan berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yang telah mapan sebagai nilai-nilai kesepakatan leluhur bangsa Indonesia.

Kesejajaran itu menyatakan diri dalam bentuk hubungan saling menopang antara keduanya, yaitu bahwa ajaran-ajaran agama menyediakan bahan yang kaya dan tak habis-habisnya untuk pengisian nyata nilai-nilai Pancasila dan Pancasila memberi kerangka konstitusional bagi pelaksanaan nilai-nilai keislaman di Indonesia sehingga makin relevan dengan bangsa dan negara.  Moh. Shopan menyebutkan konsep keuniversalan ajaran Islam yang begitu luas harus diarahkan kepada kemampuan menjawab tantangan zaman dan menyumbangkan tradisi intelektual yang terus berkembang dengan meningkatkan paham keagamaan Islam yang mendalam dan semangat keterbukaan dengan titik berat kepada; Pertama pemahaman sumber-sumber ajaran Islam dalam kaitannya dengan lingkungan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Kedua penyadaran tentang sejarah pemikiran Islam; suatu hubungan dialektik antara ajaran dan peradaban yang terjadi dan berlangsung dalam panggung sejarah umat Islam. Ketiga apresiasi terhadap khazanah budaya dan peradaban Islam dan bangsa-bangsa muslim. Keempat penanaman semangat non-sektarian dan pengembangan serta pemeliharaan ukhuwah islamiyyah yang dinamis, kreatif. Kelima pendalaman dan perluasan kajian Islam, guna menghindari kecendrungan sikap anarkis dan eksklusifistik.

Setiap agama tentu saja memiliki concern dalam persoalan publik yang menyangkut keadilan, kesejahteraan, kemanusiaan dan keberadaban. Fungsi agama bagi kehidupan manusia untuk membantu pemeluknya mengenali dan mendorong mereka agar memilih jalan kebaikan serta keselamatan hidup. Di dalam agama ditemukan anjuran untuk bersikap toleran, saling menghormati dan menghargai, meskipun pada kenyataannya, banyak di antara kita yang saling membenci, mencaci, bahkan memusuhi hanya karena perbedaan agama dan sudut pandang. Oleh karena itu setiap agama harus mencari titik temu dan dalam bahasa Taufik Hidayat adalah bentuk “civic religion” bagi pengelolaan ruang publik bersama. Dalam konteks keindonesiaan “civic religion” itu adalah Pancasila.

Diambil dari Jurnal Perdata dan Hukum “KEADILAN” Edisi 1 /Januari 2015  Fakultas syariah dan Ilmu Hukum, IAIN Padangsidimpuan. 

 


Leave a comment

Your email address will not be published.

*