Home » buletin » Hadhanah Dalam Kompilasi Hukum Islam

Hadhanah Dalam Kompilasi Hukum Islam

Oleh: Istiqomah Sinaga

photo_800

Perkawinan sebagaimana yang termaktub dalam Kompilasi Hukum Islam, disebutkan bahwa perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah Swt. dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Pernikahan sejatinya merupakan ibadah dan wujud ketaatan kita kepada perintah ALLAH SWT dan Rasulnya. Namun, saat ini banyak terjadi perceraian. Pernikahan dijadikan sebagai ajang kesenangan semata. Fakta menunjukkan bahwa tidak sedikit perkawinan yang dibangun dengan susah payah pada akhirnya bubar karena kemelut rumah tangga. Perceraian menimbulkan berbagai masalah termasuk permasalahan tentang anak.

Perceraian yang terjadi menempatkan anak sebagai korban, padahal sesungguhnya anak merupakan prioritas yang harus diasuh dan dibesarkan sebaik mungkin. Terkadang karena perceraian muncul permasalahan tentang siapa yang berhak mengasuh anak, tidak jarang kasus tentang anak dan pengasuhannya bergulir ke Pegadilan.

Kondisi anak di Indonesia Hari ini, jutaan anak di negeri ini sedang terpuruk dalam kehidupan yang mengerikan. Terserak dijalan-jalan berdebu sebagai pengemis, pengamen, bahkan pencopet. Terkapar ditenda-tenda pengungsian. Belum terhitung mereka yang menjadi pekerja paksa di pabrik-pabrik, sampai jermal penangkapan dilaut lepas. Tidak dapat dipungkiri, bahwa saat ini lebih dari sebelas juta jiwa anak mengalami putus sekolah dan enam juta diantaranya menjadi pekerja anak.

Indonesia sebagai negara hukum telah merumuskan dan memberlakukan peraturan yang berkenaan dengan anak dan pemenuhan hak anak terlebih karena perceraian. Seperti yang termuat dalam Kompilasi Hukum Islam, yang dalam bahasa arab dikenal dengan istilah Hadhanah. Hadhanah menurut bahasa berarti meletakkan sesuatu dekat tulang rusuk seperti menggendong, atau meletakkan sesuatu dalam pangkuan. Seorang ibu waktu menyusukan, meletakkan anak di pangkuannya, dan melindungi dari segala yang menyakiti.

Hadhanah menurut istilah ialah tugas menjaga dan mengasuh dan mendidik bayi atau anak kecil sejak ia lahir sampai mampu menjaga dan mengatur dirinya sendiri. Seorang anak dalam permulaan hidupnya sampai umur tertentu memerlukan orang lain dalam kehidupannya, baik dalam pengaturan fisiknya maupun dalam pembentukan akhlaknya.

 

Dasar Hukum Hadhanah

Al-qur’an.

Sebagaimana firman Allah SWT :

Artinya:  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Q.S al-Anfal 27)

As-sunnah

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW

عن عبد الله بن عمرو رضى الله عنه ان امراة قالت : يا رسول الله ان ابن هذا كان بطنى له وجاء و ثدب له سقاء و حنجر له حواء. و ان اباه طلقنى  واراد ان ينزعنه مِنىﱠ, فقال لها رسول الله : انت احق به ما لم تنكه (رواه احمد وابو داود وصححه الحاكم)

Artinya : Dari Abdullah Bin Umar. Bahwasanya seorang perempuan pernah berkata: wahai rasululloh, sesungguhnya perutkulah yang mengandung anak ku, susuku sebagai minumanya, pangkuanku sebagai tempat perlingdunganya. Ayahnya betul-betul telah menceraikan ku, dia ingin mengambilnya dari sisiku, lalu rasululloh berdabda kepadanya, engkau lebih berhak terhadap anak tersebut sebelum engkau kawin.

 

Yang Berhak Melakukan Hadhanah

Dalam Kompilasi Hukum Islam Bab XIV Pasal 105 disebutkan : Dalam hal terjadinya perceraian :

Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya.

Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya.

Biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.

Dan pada Bab VIII tentang Putusnya Perkawinan dan Akibatnya, pada pasal 41 disebutkan, akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah:

Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak pengadilan memberi keputusan.

Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu. Bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri.

Bagian Ketiga Akibat Perceraian Pasal 156, Akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah :

Anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadanah dari ibunya, kecuali bila ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan oleh:

wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu, ayah, wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah, saudara perempuan dari anak yang bersangkutan, wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah.

Anak yang sudah mumayyiz berhak memilih untuk mendapatkan hadanah dari ayah atau ibunya.

Apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula.Semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dapat mengurus diri sendiri (21 tahun)

Bilamana terjadi perselisihan mengenai hadhanah dan nafkah anak, Pengadilan Agama memberikan putusannya berdasarkan huruf (a),(b), dan (d). Pengadilan dapat pula dengan mengingat kemampuan ayahnya menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang tidak turut padanya.


Leave a comment

Your email address will not be published.

*