Home » buletin » Hukum Zakat Profesi

Hukum Zakat Profesi

Zakat Prfesi dikenal dengan Zakah Rawatib al-Muwazhaffin atau Zakah al-Kasb al-’Amal wa al-Mihan al-Hurrah (Zakat hasil pekerjaan dan Profesi Swasta).

Zakat Profesi didefenisikan sebagai zakat yang dikenakan pada tiap pekerjaan atau keahlian professional tertentu, baik yang dilakukan sendiri, maupun bersama orang lain, yang mendatangkan penghasilan yang mendatangkan uang.

Nisab Zakat Profesi dapat disamakan dengan nilai 80 gr emas dan jumlah yang dikeluarkan sebesar 2,5%. Zakat Profesi dikeluarkan langsung saat menerima atau setelah diperhitungkan dengan kurun waktu yang telah ditentukan.

 

Landasan Fikih, Zakat Profesi ini adalah perbuatan sahabat yang mengeluarkan zakat untuk al-Maal al-Mustafad (harta perolehan). Al-Maal al-Mustafad adalah setiap harta baru yang diperoleh seorang muslim melalui cara kepemilikan yang disyariatkan, seperti, waris, hibah, upah pekerjaan, dan yang semisalnya.

Dasar Hukum diwajibkannya zakat profesi adalah firman Allah SWT, “dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang-orang yang meminta dan orang-orang miskin yang tidak mendapat bagian (Qs. Adz-dzariat ayat 19)”. Dikuat juga dengan Firman Allah Qs. Al-Baqarah Ayat 267 “wahai orang-orang yang beriman bersedekahlah, dari apa yang baik-baik dan dari apa yang kalian keluarkan”.

Dalam muktamar internasioanl pertama tentang zakat dikuwait pada tanggal 29 rajab 1404 H, yang bertepatan dengan tanggal 30 April 1984 M, para peserta sepakat akan wajibnya zakat profesi jika sampai pada nisab, walaupun mereka berbeda pendapat tentan pelaksanaannya.

Sebahagian ulama’ berpendapat, bahwa zakat profesi tidaklah wajib karena dasar hukum utamanya adalah ijtihad, sedangkan ijtihad bukanlah dalil syariah yang kuat (Mu’tabar).

Walaupun demikian, perbedaan pendapat tentang wajib atau tidaknya mengeluarkan zakat bagi mereka yang menghasilkan harta melalui profesi tertentu, tidak menjadi penghalang untuk mengeluarkan zakat profesi.

Dengan dalil yang ada zakat profesi tetap diakui dalam islam, dan tetap diankurkan untuk menunaikannya, sebab setiap zakat yang dikeluarkan oleh seorang muslim akan membawa manfaat yang besar bagi banyak orang.***

Tim Redaksi Buletin Justitie Edisi I tahun 2016

Anda bisa mendownload Buletin Justitie Fakultas Syariah IAIN Padangsidimpuan disini


Leave a comment

Your email address will not be published.

*