Home » buletin » Kehidupan Dunia Menurut al-Qur’an

Kehidupan Dunia Menurut al-Qur’an

Oleh: Kholidah, M.Ag

camel

Firman Allah dalam  surat al-Hadid ayat 20;

اعلموا انما الحياة الدنيا لعب و لهو وزينة و تفاخر بينكم و تكاثر فى لآموال وا لأولاد  كمشل غيث أعجب الكفار نباته ثم يهيج فتراه مصفرا ثم يكون حطاما وفى الآخرة عذاب شديد ومغفرة من الله ورضوان وما الحياة الدنيا الا متاع الغرور

Artinya: “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia ini hanyalah permainan, pelisiran, perhiasan dan bermegah-megahan antara sesama kamu, berlomba banyak kekayaan dan anak. Tidak obahnya laksanan hujan yang menakjubkan petani karena tanamannya tumbuh, kemudian kering, sesudah itu kuning dan akhirnya layu. Di akhirat kelak akan diterima siksa yang dahsyat (untuk orang-orang yang bersalah) tapi juga ampunan dan ridho Allah (untuk orang-orang yang berbuat baik) kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan tipuan semata-mata”.

Ayat di atas menggambarkan lima bentuk predikat kehidupan di dunia. Gambaran lima predikat kehidupan di dunia ini bukan dimaksud bahwa kehidupan di dunia ini rendah, tetapi Allah memperingatkan jangan sampai manusia menyangkutkan hatinya kepada kenikmatan dunia semata. Allah juga menggambarkan bahwa kenikmatan kehidupan akhirat kelak bagi orang-orang yang berbuat kebajikan di dunia, suatu kehidupan yang penuh dengan kasih sayang, sempurna dan ridha Allah. Untuk itu segala sesuatunya harus diletakkan dan dinilai secara proporsional.

Bagaimana lima predikat kehidupan di dunia ini, bagaimana sikap menghadapi kehidupan dunia ini dan apa pilihan bagi seorang muslim, akan diuraikan.  Adapun lima predikat kehidupan di dunia yang telah digambarkan dalam surat al-Hadid ayat 20 adalah sebagai berikut;

  1. Permainan (la’ibun)

Kata “ لعب ” dalam Alquran digunakan untuk menggambarkan suatu perbuatan yang dilakukan oleh pelakunya bukan untuk suatu tujuan yang wajar dalam arti membawa manfaat atau mencegah mudharat.  Artinya perbuatan itu dilakukan tanpa tujuan, hanya untuk menghabiskan waktu saja. Fakhrur Razi dalam kitab Tafsir al-Kabir mengatakan kata la’ibun menggambarkan seperti anak-anak bermain-main, asyik dan sungguh-sungguh, membuat badan mereka letih tetapi tidak menghasilkan manfaat. Mereka melakukannya tanpa sesuatu tujuan kecuali main untuk main-mainan. Walaupun hasilnya tidak ada tetapi anak-anak itu merasa puas dan senang.

  1. Pelesiran (lahwun)

Kata “لهو ” digunakan untuk menggambarkan suatu perbuatan yang mengakibatkan kelengahan pelakunya dari pekerjaan yang bermanfaat atau lebih bermanfaat atau penting daripada perbuatan yang sedang dilakukannya. Fakhrur Razi mengatakan, kata lahwun menggambarkan perbuatan anak-anak muda atau remaja yang sudah mempunyai suatu tujuan meskipun belum jelas. Artinya, mereka melakukan suatu perbuatan hanya untuk mencapai keinginan dan kepuasan hawa nafsu saja. Mereka lakukan itu laksana orang yang dahaga dan lapar dan mereka menyadari akibat buruk yang ditimbulkan dari perbuatan yang dilakukan.

  1. Perhiasan (zinatun)

Kata “زينة “  digunakan untuk menggambarakan kehidupan dunia ini laksana  kegemaran kaum wanita terhadap perhiasan. Setiap perhiasan hanya memberikan kenikmatan kepada mata, cantik dilihat, indah dipandang, tetapi belum tentu mengandung nilai-nilai yang hakiki. Begitulah kehidupan dunia ini, indah dalam pandangan sehingga banyak orang berfikir dan selalu berupaya untuk hal-hal yang bersifat materil, kekinian dan kesenangan sesaat. Mereka mengukur segala sesuatu dengan ukuran dunia atau materi saja.

  1. Bermegah-megah (tafakhur)

Kata “تفاخر  “ berarti berbangga-bangga atau bermegah-megah. Kata ini menggambarkan bahwa dunia ini merupakan arena untuk saling bangga membanggakan. Masing-masing menunjukkan kelebihan dan keistimewaannya, membanggakan kekuatan, kekuasaan, kecantikan, kekayaan dan lainnya, pastinya merasa selalu lebih dari orang lain.

  1. Perlombaan kekayaan dan pengaruh

Kata “تكاثر“ Allah menggambarkan kehidupan dunia ini sebagai arena perlombaan kekayaan dan pengaruh yang dapat mengakibatkan hal-hal negatif, seperti persaingan yang tidak sehat, saling jatuh menjatuhkan bahkan sampai kepada saling membunuh dan menghancurkan.

Dalam menghadapi dan menanggapi kehidupan dunia, ada tiga macam pandangan hidup dikalangan kaum muslimin, yaitu;

  1. Menjadikan dunia ini sebagai tujuan hidup, maksudnya nafasnya yang turun naik hanya memikirkan dan memburu kenikmatan hidup di dunia ini saja. Mencari kekayaan, kemegahan, kedudukan, kekuasaan, popularitas dan lainnya, hidupnya hanyalah semata-mata memuaskan hawa nafsu dan ambisi yang harus dikejar meskipun dengan cara yang tidak benar atau dengan semboyan tujuan menghalalkan cara.
  2. Menjadikan dunia ini sebagai jembatan hidup, maksudnya menjadikan dunia ini sebagai sarana untuk mencapai tujuan pokoknya yakni akhirata. Dia menerima kesenangan dan kenikmatan dunia ini hanya sekedar perlunya saja, supaya pikirannya tenang, kedudukannya teguh dan jasmaniyahnya sehat untuk berbakti kepada sang penciptanya dan berbuat kebaikan kepada sesama  manusia. Baginya kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang kekal, abadi yang tidak ada ujung dan akhirnya lagi, ia hidup lebih banyak untuk hari esok bukan untuk hari ini.
  3. Menjadikan dunia ini sebagai penjara hidup, maksudnya dia tidak mau tahu dengan nikmat yang ada di dunia ini. Seluruh hidupnya dipusatka untuk berbakti dan beramal sampai tidak ada waktu baginya untuk bergaul dengan sesama manusia, termasuk isteri dan mengurus anaknya. Dia bersedia hidup dengan serba terbatas dan baginya dunia ini hanya sebagai penjara baginya.

Dari tiga bentuk sikap ini, maka yang menjadi pilihan bagi seorang muslim adalah sikap yang kedua, yakni menjadikan dunia ini sebagai jembatan hidup. Artinya, dia tidak bersikap masa bodoh terhadap kenikmatan kehidupan dunia ini, akan tetapi dia usahakan supaya dia mendapat kehidupan yang layak, misalnya memiliki rumah, memiliki kekayaan yang wajar, dan yang lainnya, tetapi semua ini dia jadikan sebagai jembatan untuk menguatkan hatinya berbakti dan beramal agar mendapat maghfirah dan ridha Allah di akhirat. Semua kegiatannya dan prioritas pandangan hidupnya semata-mata diletakkan kepada persiapan untuk bekal hidup di akhirat, sebagaimana yang telah digariskan Allah dalam firmannya surat al-Qashah ayat 77

وابتغ فيما ءاتك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا واحسن كما احسن الله اليك ولا تبغ الفساد فى الارض ان الله لا يحب المفسدين

Artinya: Carilah (kekayaan) yang diberikan Allah kepada engkau kebahagiaan hidup akhirat dan jangan engkau lupakan bahagianmudi dunia. Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu dan janganlah engkau berbuat kerusakan dimuka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan.

  Seorang mukmin yang benar-benar beriman tidak akan terpesona kepada kemewahan dan kenikmatan hidup didunia ini, sebab dia dengan mata hatinya dapat melihat bahwa semua ini akan sirna dan lenyap. Oleh sebab itu, dia mengambil pilihan dan sikap seperti yang digambarkan oleh A. Yusuf Ali dalam Tafsir The Holy Quran , “Manusia yang baik akan memetik hasil dan panen berupa nilai-nilai rohaniah. Manusia yang cinta kepada peristiwa-peristiwa yang mempesonakan dia akan merasa puas menikmati semak-semak dan rumput yang hijau itu, tetapi benda yang demikian bukanlah makanan yang memiliki cita lezat. Dia segera akan layu, kemudian kering dan berserakan, sebagaimana halnya dengan kenikmatan dan keindahan dunia lainnya”.

  Orang-orang yang mengejar kekayaan dengan tujuan mencapai kenikmatan hidup dunia, seringkali pada akhir hidupnya mengalami kehidupan yang tragis.. Dalam sejarah banyak menggambarkan bahwa kekayaan, kenikmatan hidup dunia ini tidak selamnya memberikan kebahagiaan kalau tidak diimbangi dengan penghayatan nilai-nilai rohaniah. Murray Banks dalam bukunya How to life with Your Self  menggambarkan 11 orang jutawan dunia mengalami kehidupan yang tragis, misalnya Jesse Silvermore mati dengan membunuh diri sendiri, Leon Frase, Presiden dari Internationale Credietbank juga mati dengan bunuh diri dan lain-lain.  Artinya, kekayaan tidak memberikan jaminan terhadap kenikmatan yang abadi di dunia ini.

  Untuk itu, agama Islam memberikan satu pegangan supaya manusia menjaga keseimbangan antara kepentingan hidup di dunia dengan kepentingan hidup di akhirat, dengan melakukan persiapan-persiapan  akhirat dengan tidak mempersetankan kenikmatan hidup dunia. Rasulullah dalam hadisnya bersabda “ Beramallah untuk kenikmatan hidup di dunia seolah-olah anda hidup selama-lamnya dan beramallah untuk (kepentingan dan persiapan) akhirat seolah-olah anda mati besok”.  Dengan demikian, membuat keseimbangan hidup adalah salah satu seni hidup yang digariskan oleh Alquran dan sunnah. Wallahu a’lam.

Artikel di ambil dari Bulletin Madina Edisi 1 , Januari -Maret 2015, Diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, IAIN Padangsidimpuan. Kota Padangsidimpuan.


Leave a comment

Your email address will not be published.

*