Home » buletin » Kewajiban Alimentasi Anak Pada Orangtua

Kewajiban Alimentasi Anak Pada Orangtua

photo_800

Setiap anak pasti dilahirkan oleh ibunya, dan setiap anak akan berada dalam sebuah keluarga yang dipimpin oleh ayahnya. Keberadaan seorang ayah, seorang ibu dan anak dalam sebuah keluarga disebut dengan keluarga batih. Keberadaan sebuah keluarga batih sangat penting bagi kehidupan anak.

Dalam lingkungan keluarga batih itu, setiap anak akan dibesarkan, diasuh, dilindungi dan dididik hingga ia mencapai usia dewasa agar ia dapat hidup mandiri dan membentuk keluarga batih yang baru. Setiap orangtua (ayah dan ibu) sepatutnya berupaya semampu yang ia dapat lakukan agar setiap anak memperoleh kehidupan dan masa depan yang baik, bukan hanya untuk anak itu sendiri, melainkan juga untuk keluarganya, masyarakatnya dan agamanya.

Banyak diantara warga masyarakat yang awam dalam hukum. Masyarakat selalu beranggaan bahwa hanya orang tua yang diwajibkan hukum untuk memelihara dan menafkahi anak, sedangkan anak ketika telah dewasa dan bahkan kaya sekalipun, tidak ada kewajibannya untuk memelihara dan menafkahi orang tuanya. Dalam pemahaman awam, hanya anak yang memiliki hak meminta pertanggungjawaban hukum kepada orangtuanya yang tidak menafkahi dan memfasilitasi hidupnya. Anak juga diberikan hak oleh hukum untuk menggugat haknya melalui pengadilan agar dipenuhi oleh orangtuanya. Dalam pemahaman awam, orangtua tidak memiliki hak menuntut anaknya ke pengadilan agar si anak menafkahi dan memfasilitasi orangtuanya di masa tuanya.

Ketika orang tua si anak telah tua dan renta, mereka biasanya tidak lagi sekuat masa mudanya untuk mencari nafkah. Mereka biasanya lemah dan sering sakit-sakitan, atau bahkan tak dapat lagi mengurus dirinya sendiri. Ada sebagian anak yang tidak mau repot-repot mengurus orang tuanya, dan dengan alasan sibuk dan tidak punya waktu, orang tua tersebut dititipkan di Panti Jompo, atau dibiarkan hidup sendiri dirumahnya untuk mengurus dirinya sendiri semampunya. Orang tua yang tidak diberi nafkah oleh anaknya yang punya kemampuan menafkahi, biasanya mengamini terjadinya keadaan itu dan membiarkan perbuatan si anak kepadanya. Dalam keadaan umum, orang tua biasanya cenderung bersikap pasrah dan nrimo, artinya jika anak memberi nafkah alhamdulillah, jika tidak diberi “ya udah”. Benarlah kata pepatah bahwa “kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.” Orangtua biasanya tidak memiliki jalan keluar selain berdoa kepada Allah SWT.

Dalam Surah Al-Ankabut ayat 8, Allah SWT berfirman : “Kami telah mewasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya”. Tata cara berbuat baik tersebut Allah jelaskan dalam surah Al-Isra ayat 23 – 24 : “…dan terhadap kedua orang tua harus berlaku baik, pada waktu salah satu dari mereka atau keduanya telah tua, janganlah kamu berkata “ah” (kata yang menunjukkan kejemuan dan rasa muak/benci) kepada keduanya, jangan pula membentak keduanya, dan berbicaralah dengan keduanya dengan kata-kata yang baik dan lemah lembut, dan merendahlah kepada keduanya dengan penuh kasih sayang dan doakan mereka “ ya Tuhan, sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku pada masa kecil.”

Berdasarkan tata kehidupan masyarakat yang dilaksanakan turun temurun dan juga ditegaskan dalam ajaran agama sebagaimana tersebut di atas, kepatutan perbuatan yang harus dilakukan sianak ini kita kenal dengan istilah kewajiban anak berbakti kepada orangtuanya, oleh karenanya lahirlah sebuah asas dalam hukum yang menegaskan bahwa “setiap anak wajib berbakti kepada orangtuanya”. Kewajiban berbakti ini dimulai sejak anak sudah mengenal mana yang baik dan yang buruk, dan mengenal tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan orang lain, hingga sianak meninggal dunia. Pada saat si anak belum dewasa, kewajiban sianak berbakti hanyalah meliputi membantu pekerjaan orangtua, serta menghormati dan mentaati orangtuanya. Pada saat sianak  telah dewasa, anak juga wajib melaksanakan baktinya dalam bentuk mengurus, melindungi dan menafkahi kebutuhan hidup orangtuanya.

Jelaslah, bahwa asas “setiap anak wajib berbakti kepada orangtuanya” bukan hanya terdapat di dalam Hukum Islam, tetapi juga terdapat di dalam Hukum Perdata warisan kolonial Hindia Belanda yang masih berlaku sampai hari ini di Indonesia. Hak dan kewajiban orangtua terhadap anaknya, serta hak dan kewajiban anak kepada orangtuanya, dalam Hukum Perdata dikenal dengan istilah “hak dan kewajiban alimentasi”. Kewajiban alimentasi orangtua mengakibatkan timbulnya hak alimentasi anak dari orangtuanya, dan kewajiban alimentasi anak ini mengakibatkan timbulnya hak alimentasi orangtua yang harus dipenuhi anaknya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan alimentasi adalah pemeliharaan dan pemberian makan. Sedangkan dalam kamus populer ilmiah disebutkan bahwa yang dimaksud dengan alimentasi adalah pemeliharaan, pembudidayaan; pemberian penghidupan kepada keluarga (orang tua). Dengan demikian menurut hukum, kewajiban alimentasi anak yang telah dewasa terhadap orangtuanya adalah kewajiban anak untuk memelihara, mengurus dan memberi penghidupan kepada orang tuanya ketika orang tuanya telah tua dan si anak memiliki kemampuan untuk melakukan itu.

Pasal 46 ayat 2 UU No. 1 Tahun 1974 memuat aturan bahwa “jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya, orangtua dan keluarga dalam garis lurus ke atas, bila mereka itu memerlukan bantuannya”. Ketentuan ini sejalan dengan ketentuan Pasal 321 KUHPerd yang menegaskan bahwa “tiap-tiap anak berwajib memberi nafkah kepada kedua orangtuanya dan para keluarga sedarah dalam garis ke atas, apabila mereka dalam keadaan miskin”. Adanya ketentuan Pasal 46 ayat 2 UU No. 1 Tahun 1974 sebagai lex specialis, mengakibatkan ketentuan Pasal 321 KUHPerd (sebagai lex generalis) haruslah diabaikan dalam perkara hak alimentasi diantara orang-orang yang beragama Islam.

Jelaslah, bahwa asas “setiap anak wajib berbakti kepada orangtuanya” bukan hanya terdapat di dalam Hukum Islam, tetapi juga terdapat di dalam Hukum Perdata warisan kolonial Hindia Belanda yang masih berlaku sampai hari ini di Indonesia. Hak dan kewajiban orangtua terhadap anaknya, serta hak dan kewajiban anak kepada orangtuanya, dalam Hukum Perdata dikenal dengan istilah “hak dan kewajiban alimentasi”. Kewajiban alimentasi orangtua mengakibatkan timbulnya hak alimentasi anak dari orangtuanya, dan kewajiban alimentasi anak ini mengakibatkan timbulnya hak alimentasi orangtua yang harus dipenuhi anaknya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan alimentasi adalah pemeliharaan dan pemberian makan. Sedangkan dalam kamus populer ilmiah disebutkan bahwa yang dimaksud dengan alimentasi adalah pemeliharaan, pembudidayaan; pemberian penghidupan kepada keluarga (orang tua). Dengan demikian menurut hukum, kewajiban alimentasi anak yang telah dewasa terhadap orangtuanya adalah kewajiban anak untuk memelihara, mengurus dan memberi penghidupan kepada orang tuanya ketika orang tuanya telah tua dan si anak memiliki kemampuan untuk melakukan itu.

Pasal 46 ayat 2 UU No. 1 Tahun 1974 memuat aturan bahwa “jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya, orangtua dan keluarga dalam garis lurus ke atas, bila mereka itu memerlukan bantuannya”. Ketentuan ini sejalan dengan ketentuan Pasal 321 KUHPerd yang menegaskan bahwa “tiap-tiap anak berwajib memberi nafkah kepada kedua orangtuanya dan para keluarga sedarah dalam garis ke atas, apabila mereka dalam keadaan miskin”. Adanya ketentuan Pasal 46 ayat 2 UU No. 1 Tahun 1974 sebagai lex specialis, mengakibatkan ketentuan Pasal 321 KUHPerd (sebagai lex generalis) haruslah diabaikan dalam perkara hak alimentasi diantara orang-orang yang beragama Islam


Leave a comment

Your email address will not be published.

*