Home » buletin » Kontroversi Penulisan Buku ‘Ali Abd Ar-Raziq

Kontroversi Penulisan Buku ‘Ali Abd Ar-Raziq

 Windows 7 activation Key  |
 office 2010 product key  |
 Windows 7 key  |
 Windows 7 Ultimate Product Key  |
 office 2016 pro key  |
 windows 10 key  |
 office 2016 pro iso  |
 office 2007 free download  |
 office 2007 free  |
 office 2013 product key  |
 office 2016 activation key  |
 Windows 10 key  |
 Windows 7 product key Free Download  |
 office 2003 free download  |
 office 2013 iso  |
 Windows 10 iso download  |
 Office 2016 Professional Free Download  |
 Windows 7 Key Generator  |
 Window 7 Product Key Crack  |
 Office 2013 Product Key  |
 office 2016 pro plus download  |
 Office 2016/2013/2010/2007 Pro/Plus Key  |
 Windows 10 Product Key Generator Download  |
 windows 10 enterprise key  |
 Windows 10 ISO Free Download  |
 Windows 10 Pro Keys  |
 Windows 7 Professional Free Download  |
 Windows 7 Pro Product Key  |
 Buy Windows 10 Key  |
 Buy Windows 10 Product Key  |
 Buy Windows 7 Key  |
 Widnows 7 Home Premium Key  |
 Office 2007 Key  |
 Buy Windows 8.1 Product Key  |
 Windows 8 Free Download  |
 Windows 8.1 ISO Download  |
 Windows 7 Ultimate ISO Download  |
 Office 2016 Activited Key Download  |
 Windows 7 Product Key  |
 Windows 10 Latest Product Key  |
 Office 2016 ISO Download  |
 Windows 10 Download ISO  |
 Windows 8.1 ISO for 64-bit  |
 Windows 8/8.1 activited key  |
 Windows 7 Ultimate Download  |
 Windows 7 Free Activator  |
    |
 Office 2016 Activated Key  |
 Windows 7 Ultimate Download ISO  |
 Windows 7 Key Download  |
 Windows 7 Key Generator  |
 Office 2013 ISO Download  |

Oleh: Dr. Mahmuddin Siregar, MA

bookburning

Buku ‘Ali ‘Abd ar-Raziq yang berjudul Al-Islam wa Usul al-Hukm; Bahs fi al-Khilafah wa al-Hukumah sarat dengan berbagai kontroversi dari segi isi, kandungan dan orang-orang yang terlibat dalam penulisannya. Buku ini terbit pada tahun 1925 dan menghebohkan dunia Islam. Hal itu disebabkan buku tersebut menyatakan tidak ada sistem khilafah dalam Islam ditambah dengan umat Islam di Kairo sedang sibuk mengahadapi Muktamar Akbar Islam untuk membahas pembentukan kembali lembaga kekhilafahan yang telah dihapuskan oleh Mustafa Kemal setahun sebelumnya.

Muncul komentar yang menyatakan bahwa buku ‘Ali ‘Abd ar-Raziq hanya memberikan jastifikasi terhadap kebijaksanaan Mustafa Kemal di Turki. Hal ini juga senada dengan pernyataan Gustave e. Grunebaum yang menyebutkan buku ini terbit sebagai reaksi terhadap ulama ortodoks yang menentang dengan tegas sikap Mustafa Kemal. Namun bila dilihat dari sejarah penulisan buku tersebut, komentar-komentar tersebut tidak tepat. Hal itu disebabkan ‘Ali ‘Abd ar-Raziq menulis buku tersebut setelah dia kembali dari London, Inggris pada tahun 1915. Diya ad-Din ar-Rais juga mengatakan bahwa ‘Ali ‘Abd ar-Raziq menulis buku tersebut antara tahun 1915 dan 1917 ketika Perang Dunia I sedang berkecamuk. Bahkan dapat dikatakan tidak terdapat hubungan sebab-akibat antara kebijaksanaan Mustafa Kemal dengan buku ‘Ali ‘Abd ar-Raziq karena yang pertama dilatarbelakangi pertimbangan politik dan yang kedua lebih dilatarbelakangi motivasi keilmuan. Keobjekfititas ‘Ali ‘Abd ar-Raziq sebagai ilmuan murni dalam menulis buku tersebut diragukan. Hal itu disebabkan keluarga besar ‘Ali ‘Albd ar-Raziq bergabung dengan Partai Rakyat (Hizb al-Ummah) yang berpihak ke Inggris yang membenci kekhilafahan di Turki.

Kontroversi  lain muncul berkenaan dengan materi buku tersebut. Ada ulama, antara lain Syekh Muhammad Bukhait- seorang mufti di Mesir,  yang meragukan buku tersebut ditulis oleh ‘Ali ‘Abd ar-Raziq atau paling tidak sebahagian materi buku tersebut ditulis oleh orang lain. Syekh Muhammad Bukhait, bahkan, menduga buku tersebut sesungguhnya ditulis oleh dua tokoh orientalis terkemuka Inggris, Thomas Arnold dan Margoliouth. Yang pertama adalah seorang islamolog yang menulis buku tentang eksistensi khilafah (The Chaliphate) yang sering dikutif ‘Ali ‘Abd ar-Raziq dalam bukunya. Yang kedua adalah seorang Yahudi yang menjadi Guru Besar Bahasa Arab di Inggris dan mencatut nama ‘Ali ‘Abd ar-Raziq sebagai penulisnya untuk mengacaukan pikiran umat Islam. Untuk menguatkan keraguannya, Syekh Muhammad Bukhait mengemukakan alasan-alasan berikut ;

  1. Kedua orientalis tersebut pernah menjadi guru ‘Ali ‘Abd ar-Raziq di Inggris
  2. Inggris memperalat ‘Ali ‘Abd ar-Raziq untuk mengacaukan eksistensi kekhilafahan sebagai anti-tesa Maklumat Perang Suci yang dikeluarkan oleh Khalifah Usmaniyah
  3. Keinginan ‘Ali ‘Abd ar-Raziq untuk mendapatkan popularitas sehingga dia mau merealisasi ide pihak Inggris untuk menerbitkan buku tersebut
  4. Kontradiksi antara halaman 11 yang mengindikasikan buku tersebut ditulis pada tahun 1924 dan halaman 25 yang mengindikasikan buku tersebut ditulis pada tahun 1918. Kontradiksi tersebut membuktikan adanya sisipan pihak lain yang masuk dalam buku tersebut terutama delapan tahun setelah tahun 1918.
  5. Ungkapan gaya bahasa yang sering menggunakan domir hum yang menunjuk kepada kaum muslimin mengisyaratkan bahwa penulisnya bukan orang Islam. Penggunaan domir semacam itu tidak lazim dipergunakan oleh penulis Arab-muslim.
  6. ‘Ali ‘Abd ar-Raziq mengupas Kitab Injil, khususnya, Injil Matheus ayat 22 padahal dia tidak pernah mendalami kitab tersebut di Mesir
  7. Metode canggih yang digunakan dalam buku tersebut, analitis-informatif,  tidak umum digunakan dalam karangan-karangan yang berbahasa Arab
  8. ‘Ali ‘Abd ar-Raziq tidak dikenal sebagai seorang penulis apalagi dengan menggunakan tehnik penulisan baru lagi canggih. Karya tulis yang pernah dibuat sebelumnya hanya berupa brosur kecil dalam bidang bahasa (‘Ilm al-Bayan) dan
  9. Mengapa buku yang sekecil itu harus menghabiskan waktu penulisan sampai sepuluh tahun.

Jika dianalisa satu-persatu tuduhan Syekh Muhammad Bukhait tersebut di atas sesungguhnya kurang tepat, berlebihan dan terkesan emosional. Karya ‘Ali ‘Abd ar-Raziq ini dapat disebut sebagai karya orisinal dan disusun berdasarkan pendekatan obyektif ilmiah. ‘Ali ‘Abd ar-Raziq telah melibatkan lima puluh buku, yang mayoritas buku-buku klasik, dan hadis-hadis yang digunakan dengan amat selektif, sebagai sumbernya. Kalau dia menemukan hadis yang dinilai lemah,dia tak lupa mengomentarinya.

Tuduhan bahwa buku tersebut bukan karya aslinya tidak dapat dibuktikan. Mungkin, ‘Ali ‘Abd ar-Raziq pernah ketemu atau diajar oleh Thomas Arnold dan Margoliouth tetapi tidak dapat dibuktikan bahwa buku tersebut adalah karya kedua orientalis tersebut. ‘Ali ‘Abd ar-Raziq tidak pernah mengutip atau menyinggung nama Margoliouth dalam bukunya. Dia hanya mengutip Thomas Arnold dan itu pun disertai dengan catatan kakinya.

Setiap kali ‘Ali ‘Abd ar-Raziq menutup uraiannya dalam setiap bab, dia selalu merendah dan tak lupa memohon petunjuk kepada Allah SWT. Berbeda sekali dengan apa yang dituduhkan oleh para penentangnya seolah-oleh ‘Ali ‘Abd ar-Raziq adalah seorang angkuh dan gila popularitas.  ‘Ali ‘Abd ar-Raziq sendiri sudah membayangkan bukunya akan menimbulkan kontroversi di kalangan ulama namun dia sadar bahwa sudah saatnya mengadakan pengembangan ilmu politik yang dia nilai sejak zaman klasik tidak pernah mendapatkan porsi yang memadai dibandingkan dengan disiplin ilmu-ilmu lainnya. ‘Ali ‘Abd ar-Raziq membandingkan buku-buku ilmu politik  yang pernah beredar dalam masyarakat Islam amat minim. Itu pun kebanyakan ditulis di bawah satu kekuatan politik tertentu misalnya ditulis sebagai persembahan kepada penguasa. Buku-buku ilmu politik paling sedikit diterjemahkan di masamasa gencarnya gerakan penterjemahan pada zaman keemasan Islam. Semuanya itu disebabkan oleh otoritas khalifah yang sangat peka terhadap suatu pemikiran yang dapat menurunkan wibawa dan eksistensinya sebagai khalifah.

Mungkin salah satu kelemahan buku ‘Ali ‘Abd ar-Raziq adalah terlalu ringkas sehingga banyak pernyataan yang amat sensitif dan selanjutnya menimbulkan reaksi keras di kalangan ulamaortodoks. Hal itu tidak perlu terjadi sekiranya ‘Ali ‘Abd ar-Raziq memberikan keterangan tambahan . Selain itu, dia tidak pernah memberikan jawaban atau tidak diberi kesempatan menjawab secara tertulis dan rinci terhadap reaksi keras yang timbul di kalangan ulama sehingga karya orisinalnya tidak banyak diterima pada saat itu.

Kelemahan lainnya adalah ‘Ali ‘Abd ar-Raziq mencoba menggambarkan perspektif kehidupan politik di dunia Islam dengan menggunakan teori ilmu politik moderen dengan pemahaman yang keliru dan kurang representatif. Sebagai contoh ketika dia menggambarkan teori tentang sumber kedaulatan rakyat dengan mengutip pendapat Thomas Hobbes dan John Locke. Ternyata dia keliru memahami pemikiran kedua tokoh tersebut

Diambil dari Buletin Madina Edisi I, Januari – Maret 2015, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN padangsidimpuan


Leave a comment

Your email address will not be published.

*