Home » berita » Menyikapi RUU Larangan Minuman Keras

Menyikapi RUU Larangan Minuman Keras

Miras
Miras

RUU larangan minuman keras yang sedang digodok oleh DPR merupakan berita positif bagi Umat islam di indonesia. RUU ini memang telah lama ditunggu tunggu oleh pemerhati minuman keras. Sejauh ini 10 Fraksi di DPR telah menyetujui usulan ini dengan berbagai catatan, misalkan tetap memperhatikan Pariwisata seperti bali.

Jika di tinjau dari syariat islam, memang RUU ini tidak lepas dari hukum islam yang mengharamkan Minuman keras secara mutlak. Sejauh ini tidak ada gejolak masyarakat tentang hal ini kecuali adanya unjukrasa terutama di Bali yang khawatir jika RUU ini nantinya jadi UU dan diterapkan secara nasional akan berdampak pada Pendapatan di sektor wisata, Namun kalau kita mau menelusuri lebih jauh, hal itu sebenarnya sudah diperhatikan oleh para fraksi sehingga kekhawatiran tersebut tidaklah perlu.

Semakin Cepat RUU ini menjadi UU, maka akan semakin bagus mengingat  Minuman keras merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya tindak kejahatan lain seperti penganiayaan, pemerkosaan atuapun pembunuhan.

Sejauh ini, Larangan tentang minuman keras memang belum ada, yang ada baru sebatas (Permendag) Nomor 6/M-Dag/Per/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan Terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol yang itupun dilonggarkan bahwa setiap Pemda boleh membuat aturan sendiri tergantung kondisi pariwisata dan budaya didaerahnya.

Dilihat dari sisi akademis, adanya RUU Larangan miras yang datang dari partai Islam menunjukan bahwa Hukum dan perundang undangan di Indonesia tidak lepas dari Syariat islam dan sudah seharusnya para lulusan Syariah mempu memberikan kontribusi Real di masyarakat nantinya yang tujuan utamanya adalah menjadikan indonesia menjadi lebih baik, terutama generasi mudanya.

 


Leave a comment

Your email address will not be published.

*