Home » buletin » Perempuan sebagai Dzawil Arham

Perempuan sebagai Dzawil Arham

Oleh: Asrina Oktavia Siregar

Pengertian Dzawil Arham

muslimah2

Dzawil Arham berasal dari bahasa Arab, dzawu dan al-arham. Semua istilah dzawil arham mempunyai arti yang luas, yakni mencakup seluruh keluarga yang mempunyai hubungan kerabat dengan orang yang meninggal. Keluasan arti dzawil arham tersebut diambil dari pengertian lafaz  al-arham pada firman Allah SWT, yang artinya:

“Orang-orang yang mempunyai hubungan Kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah SWT.(Q.S.al-Anfal 8:75).”

Para ulama Faraidh memberikan defenisi dzawil arham sebagaimana yang dikemukakan sayid sabid :

“Setiap kerabat yang bukan (tidak termasuk) ashhabul-furudh dan bukan (tidak termasuk)  golongan ashabah.”

Dari uraian diatas, dapatlah dipahami bahwa orang-orang yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan si pewaris, selain kedua puluh lima orang ahli waris yang telah disebutkan diatas, termasuk kelompok  dzawil arham.

Orang-orang yang termasuk kelompok dzawil arham tersebut, antara lain, adalah :

Cucu perempuan pancar perempuan dan seterusnya kebawah

– Cucu laki-laki pancar perempuan dan seterusnya kebawah

– Anak perempuan saudara laki-laki sekandung dan seterusnya kebawah

– Anak perempuan saudara laki-laki sebapak dan seterusnya ke bawah

– Anak laki-laki saudara perempuan sekandung dan seterusnya ke bawah.

-Anak perempuan saudara sekandung dan seterusnya ke bawah

Anak laki-laki saudara perempuan sebapak dan seterusnya ke bawah

Kakek dari pihak ibu dan seterusnya keatas dan lain sebagainya.

Alasan yang dikamukakan oleh golongan yang menyatakan ketiadaan warisan bagi dzawil arham adalah, antara lain, adanya firman Allah (Q.S 9 Maryam : 64), bahwa dalam ayat – ayat mawaris, Allah hanya menjelaskan hak waris golongan ashhabul furudhdan ashabah; sedang hak waris dzawil arham tidak dijelaskan sama sekali. Ketidakjelasan hak waris dan ketentuan  besarkecilnya penerimaan  dzawil arham bukanlah suatu kealfaan Tuhan.

Warisan bagi Dzawil Arham

Apabila terjadi suatu kasus tertentu, misalnya seseorang meninggal dunia dan tidak ada sama sekali meninggalkan anggota keluarga yang berstatus sebagai ahli waris, yang ada hanya kelompok keluarga dzawil arham, maka dalam menyelesaikan persoalan harta warisan yang ditinggalkan pewaris tersebut dikenal ada 3 (tiga) pendapat/mazhab, yaitu :

Pendapat/mazhab Ahl Al-Qarabah,

– Pendapat/mazhab Ahl At-Tanzil,

– Pendapat/mazhab Ahl Ar-Rahim.

Pendapat/mazhab Ahl Al-Qarabah

Pendapat ini dikembangkan oleh ahli hukum Islam mazhab Syafi’iyah seperti Al-Baghawi dan Al-Mutawalli (pada awalnya pendapat ini didasarkan kepada ijtihad Ali bin Abi Thalib). Pendapat ini  mengemukakan bahwa diantara para ahli waris terdapat kelompok keutamaan, yaitu kelompok yang satu lebih utama dari kelompok yang lain, mazhab ini membagi pengelompokan tersebut kepada (Ahmad Rofiq, 1993: 146).

Kelompok Banuwwah, yaitu yang terdiri dari anak-anak, cucu-cucu, dan seterusnya kebawah.

– Kelompok Ubuwwah, yaitu terdiri – dari kakek dari ibu, nenek dari kakek, dan seterusnya keatas.

– Kelompok Ukhuwwah, yaitu terdiri dari anak-anak saudara atau kemenakan.

Kelompok Umumah, yaitu terdiri dari paman, bibi, dan anak keturunannya.

Pendapat Mazhab Ahl At-Tanzil

Mazhab ini dikembangkan oleh Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad ibn Hanbal. Menurut pendapat ini untuk menentukan siapa yang lebih berhak diantara  dzawil arham untuk memperoleh warisan dari si pewaris adalah dengan cara menempatkan mereka pada kedudukan ahli waris yang menghubungkan mereka masing-masing kepada si pewaris, dan setelah kedudukan mereka didudukkan kepda ahli waris yang menghubungkan mereka kepada si pewaris selanjutnya kedudukan mereka dirurunkan saru per satu, misalnya cucu perempuan garis perempuan didudukkan sebagai anak perempuan, anak perempuan saudara laki-laki didudukkan sebagai saudara laki-laki, anak perempuan saudara perempuan didudukkan sebagai saudara perempuan, saudara perempuan ayah didudukkan sebagai ayah, saudara perempuan ibu didudukkan sebagai ibu, dan seterusnya. Sedangkan dalam hal pembagian harta warisan diselesaikan dengan cara pembagian biasa, yaitu dengan memakai ashhabal-furudh.

Sumber: Buletien Justitie  Edisi 1, Januari – Maret 2015, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN padangsidimpuan.


Leave a comment

Your email address will not be published.

*