Home » buletin » Refleksi Peringatan 70 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

Refleksi Peringatan 70 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

Oleh:

baru

Hasir Budiman Ritonga*

70 Tahun sudah negara Indonesia merdeka. Setiap tahunnya kita selalu memperingati dirgahayu Negara Republik Indonesia. Dengan memperingati hari kemerdekaan tersebut diharapkan rakyat Indonesia mengenang kembali perjuangan para pahlawan dan syuhada yang telah meninggal di medan perang dengan tujuan merebut dan memperjuangkan kedaulatan Negara Indonesia dari tangan penjajah. Selain itu, untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme yang kuat sehingga timbul rasa cinta terhadap Negara dan sikap membela serta memperjuangakan keutuhan Negara Kesatuan RepubIik Indonesia (NKRI).

Saat ini Indonesia sudah mencapai usia ke- 70 tahun kemerdekaannya. Tuju puluh (70) tahun bukanlah usia yang muda dalam hitungan umur manusia, bukan pula jangka yang pendek dalam hitungan masa. Namun demikian, Indonesia belum seutuhnya menikmati merdekaan itu, karena ekonomi belum stabil dan tidak memihak kepada rakyat. Buktinya harga bahan pokok semakin melambung sementara harga hasil pertanian seperti padi dan hasil perekebunan seperti getah dan sawit semakin menurun. Selain itu masih banyak rakyat Indonesia yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Terbukti masih ada masyarakat yang tidak mampu untuk membiayai anaknya untuk bersekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Hakikat kemerdekaan suatu Negara itu sesungguhnya ketika Negara tersebut “mandiri”, tidak bergantung kepada Negara lain, baik dari segi ekonomi, budaya dan politik. Disamping itu, Negara tersebut terhindar dari interpensi dan intimidasi Negara lain dalam mengambil suatu kebijakan ekonomi, budaya dan politik. Sehingga mampu menentukan arah kebijakan pemerintahan untuk kemajuan negaranya. Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Nafis mengatakan, bahwa sejatinya kemerdekaan Indonesia yang ke-70 belum dicapai. Karena menurut beliau kemerdekaan itu, independen dalam melakukan tindakan dan terbebas dari kendali serta tekanan Negara lain. Beliau juga menambakan bahwa Negara ini telah merdeka dan berdaulat, tetapi apakah bangsa Indonesia juga telah merdeka?. merdeka itu independen dalam melakukan tindakan dan terbebas dari tekanan pihak lain. (berita online. republika.co.id).

Realitas yang ada saat ini, Negara Indonesia masih tergantung kepada Negara lain. Hasil bumi Indonesia yang kaya dengan emas, gas, minyak dan lain sebaginya masih dikelolah Negara lain. Hanya sedikit hasil bumi Negara ini yang dapat dinikmati oleh rakyatnya. Kebijakan ekonomi dan politik juga masih dibawah tekanan dan interpensi Negara lain. Bukitnya dalam pembangunan inprastuktur Negara ini masih didominasi oleh orang asing. Baik itu dalam tender pembangunannya juga menyediakan tenaga kerjanya. Kasus yang baru ini terjadi ketika pemerintah menginfor tenaga kerja dari Cina sementara masyarakat Indonesia masih banyak yang pengangguran dan tidak dapat pekerjaan yang layak.
Setiap tahunnya dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia diperingati, namun rakyat Indonesia tidak sepenuhnya menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. peringattan hari kemerdekaan selama ini masih sebatas seremonial belaka, namun tidak ada target dan pencapaian dalam mengisi dan memperjuangkan kemerekaan tersebut. Para pemimpin dan rakyat tidak menghayati betapa para leluhur dan pendahulu negeri bersusah payah bahkan menumpahkan darahnya demi merebut dan memperjuangkan kemerdekaan negara ini. Tetapi rakyat masih asyik memanfaatkan kemerdekaan negeri ini untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Dimana letak nasionalisme dan kenegarawanan kita….??

Sejatinya pemerintah dan para elit politik lebih mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi, politik, ormas, dan apapun itu bentuknya. Ingat, anda (pemerintah/pejabat public) dipilih oleh rakyat, dan anda bertanggung jawab atas keamanan, kenyamanan, kesejahteraan dan kebahagian rakyat yang anda mimpin. “Sesungguhnya setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertangung jawab atas kepemimpinanmu” (HR. Bukhari Muslim). Pertanggungjawaban itu bukan hanya di dunia saja, namun lebih dari itu pertanggungjawab di hadapan Tuhan itu yang lebih berat dan tidak bisa manipulasi data dan lain sebagainya. Semua anggota badan kita kelak akan menjadii saksi atas apa yang kita perbuat selama di dunia. Allah SWT berfirman: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan tangan-tangan mereka berkata kepada Kami dan kaki-kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang telah mereka usahakan.”. (QS Yasin :65).

Dengarlah rintihan kami sebagai rakyat jelata ini wahai pemimpin dan penguasa negeri kami. Sungguh kami sangat menunggu gebrakan dan janji-janjimu selama kamu mempromosikan dirimu untuk kami pilih dan menjadikanmu sebagai pemimpin kami. Sungguh Allah sangat menyayangi dan melindungi pemimpin yang adil yang senantiasa memperhatikan hidup rakyatnya bahkan dalam satu hadits dikatakan bahwa seorang memimpin yang adil akan mendapat naungan di hari akhirat yang mana tidak ada naungan ketika itu kecuali naungan dari Allah SWT.
Wallahu ‘Alam Bisshowab.

Hasir Budiman Ritonga, Dosen di Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, IAIN Pasangsidimpuan.
Padangsidimpuan, 17 Agustus 2015.

 


Leave a comment

Your email address will not be published.

*