Home » buletin » Sekulerisme oleh Thaha Husein

Sekulerisme oleh Thaha Husein

Thaha Husein adalah salah seorang tokoh pembaharu Mesir yang hidup pada tahun  1889-1973. Dia berasal dari keluarga petani dan pada saat dia berusia enam tahun dia diserang penyakit mata yang membuatnya buta. Kebutaan tersebut tidak menghalangi Thaha Husein untuk menuntut ilmu pengetahuan mulai dari tingkat dasar sampai ke tingkat perguruan tinggi baik di dalam negeri maupun di luar negeri, seperti; Sorbon, Perancis. Berkat ilmu pengetahuan yang dia peroleh di Sorbon, dia mengadakan pembaharuan pendidikan, pilitik dan sosial-budaya.

seculerisme
seculerisme

Di bidang pendidikan, Thaha Husein melakukan gebrakan-gebrakan penting baik dari segi  institusi, kurikulum dan metode pendidikan maupun dari segi biaya yang harus dipikul para peserta didik. Di bidang sastra, Thaha Husein mengeritik Sastra Arab Jahiliyah dengan menggunakan metode ilmiah sehingga memunculkan teori bahwa tidak semua sastra Arab Jahiliyah benar-benar ada pada masa jahiliyah. Dalam bidang budaya, Thaha Husein mengarang satu buku yang berjudul Mustaqbal asy-Syaqofi fi Misr.

Sebelum Thaha Husein, Muhammad Abduh sudah dikenal lebih dahulu. Ide-ide pembaharuan yang dicetuskan oleh Muhammad Abduh tidak hanya berpengaruh di dunia Arab, tetapi juga di dunia Islam pada umumnya. Ide-ide pembaharuannya dikenal melalui karangan-karangan Muhammad Abduh sendiri maupun melalui tulisan murid-muridnya seperti Muhammad Rasyid Ridho dengan majalah al-Manar dan Tafsir al-Manar, Qosim Amin dengan buku Tahrir al-Mar’ah, Farid bukunya Hayah Muhammad , Abu Bakar , Ali ‘Abd ar-Raziq dan Sa’ad Zaglul yang dikenal sebagai Bapak Kemerdekaan Mesir. Dalam perkembangan selanjutnya, para pengikut Muhammad Abduh juga, ikut mengembangkan ide-ide pembaharuan Muhammad Abduh, salah satu di antaranya adalah Thaha Husein.

Thaha Husein dikenal sebagai seorang pemikir pembaharu yang lebih liberal dibandingkan dengan pendahulu-pendahulunya. Pikiran-pikiran yang dikemukakannya dianggap kontroversial dengan kondisi umat Islam dalam bentuk pemahaman mereka  ajaran-ajaran Islam pada masanya.  Thaha Husein melahirkan sekularisasi di Mesir. Ide ini dianggap baru dan asing bagi masyarakat Mesir ketika itu sehingga dia mendapat kritik dan tantangan yang keras dari kalangan ulama al-Azhar maupun dari murid Muhammad Abduh sendiri, Muhammad Rasyid Ridho. Karya-karya yang dihasilkannya dalam bentuk buku disita.

Sungguhpun ide yang dicetuskan Thaha Husein mendapat kecaman yang keras pada masanya, namun dalam perkembangan berikutnya dan sampai pada masa sekarang, kelihatanya ide tersebut dapat dipahami dan bahkan bisa diterima serta karya-karyanyapun telah dipasarkan secara bebas. Ide-ide pemikiran Thaha Husein , menurut Munawir Sjadzali, dimasukkan ke dalam kategori ketiga dalam hubungan Islam dan politik. Hubungan Islam dan politik telah melahirkan tiga aliran politik dalam dunia Islam. Pertama aliran berpendirian bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan serba lengkap. Ajaran Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan bernegara dan berpolitik. Di dalam kehidupan bernegara, umat Islam tidak perlu mencontoh sistem ketatanegaraan barat karena Islam telah memiliki sistem ketatanegaraan sendiri yang sangat ideal seperti ketatanegaraan yang telah dicontohkan  Rasul SAW dan al-Khulafa ar-Rasyidun yang empat.

Sekuler berasal dari kata saeculum yang mempunyai dua arti waktu dan lokasi. Waktu menunjuk pada pengertian sekarang atau kini dan lokasi menunjuk pada pengertian dunia atau duniawi. Jadi saeculum berarti zaman kini atau masa kini yang menunjuk pada peristiwa-peristiwa di dunia ini dan juga berarti peristiwa-peristiwa masa kini. Sekularisasi dapat didefenisikan sebagai pembebasanmanusia dari agama dan metafisika, perhatian dialihkan pada dunia sekarang terlepas dari dunia sana.

Ide sekularisasi yang dikemukakan oleh Thaha Husein cukup beralasan, sebab peradaban Mesir didasarkan atas filsafat Yunani bukan India atau Cina. Hal ini menunjukkan betapa tidak sulit untuk mengalihkan peradaban Barat ke Mesir. Muhammad Ali dengan ide-ide dan teknik moderen ke Mesir telah memperkuat ikatan yang ada antara Mesir dan Eropa.

Peradaban Barat, demikian Thaha Husein, tidak didasarkan atas agama Kristen. Barat maju, justru, karena melepaskan diri ikatan agama. Dengan kondisi demikian, umat Islam akan mudah mengalihkan peradaban Barat moderen ke dunia Islam. Thaha Husein, Barat berpendapat jika umat Islam dapat mengambil peradaban yang intinya kebebasan intelektual itu maka Islam lebih cepat berkembang dibandingkan dengan renaissance (kebangkitan) di Eropa pada abad XVI s/d XIX di saat mereka melepaskan dogma yang dianggap sakral.

Dengan memperhatikan alasan-alasan yang telah dikemukakan oleh Thahaha Husein di atas, agaknya, kita keliru jika mengklaimnya sebagai sekularis murni. Hal ini disebabkan dia tidak mengabaikan perlunya agama. Hal itu tergambar dalam pemikiran Thaha Husein di bidang pendidikan. Agama, demikian Thaha Husein, perlu diajarkan di sekolah-sekolah. Dalam kesatuan nasional, Thaha Husein melihat Islam mempunyai peranan penting. Oleh karena itu, Islam harus diajarkan di sekolah-sekolah sebagai agama nasional.

Selain itu, Thaha Husein juga berpendapat bahwa kemandekan pendidikan desebabkan proses belajar-mengajar yang disampaikan dalam bahasa asing, Inggris dan Perancis. Dia, juga, mengecam pemerintah yang telah banyak mengirim mahasiswa ke Eropa untuk mempelajari berbagai ilmu tetapi tidak mengirim mahasiswa untuk memperdalam pengatahuan sastra. Sastra Arab, demikian Thaha Husein, mempunyai kedudukan yang penting. Hal itu disebabkan Bahasa Arab telah menjadi bahasa orang Mesir dan Mesir adalah pusat kebudayan Arab moderen. Dari Kairolah, kebudayaan baru itu meluas ke dunia Arab lainnya.

Thaha Husein ingin memajukan kebudayaan Mesir. Dalam bukunya Mustaqbal asy-Syaqofah fi Misr, dia mengajukan idenya tentang kebudayaan Mesir yang dicita-citakannya. Dia menginginkan Mesir maju dan moderen seperti Eropa. Untuk itu, Mesir harus mengikuti jejak Eropa. Soal ini mudah bagi Mesir karena Mesir, pada hakekatnya, bukanlah negara timur tetapi bahagian dari negara Barat. Hal itu disebabkan peradaban Mesir didasarkan atas Falsafat Yunani sistem hukum Romawi bukan atas peradaban India dan Cina. Di dunia ini, demikian Thaha Husein, lebih lanjut hanya ada dua peradaban; Peradaban Barat dan Peradaban Timur. Mesir tidak termasuk peradaban yang berasal dari timur.

Faktor lain yang turut memicu kemandekan pendidikan di Mesir adalah kurikulum pendidikan al-Azhar yang masih tradisional sehingga mahasiswa hanya dididik untuk menjadi orang yang terpencil dari dunia moderen. Oleh karena itu, penyesuaian diri dengan perkembangan moderen jauh lebih sulit dibandingkan dengan mahasiswa yang mendapat pendidikan Barat.

Untuk memajukan pendidikan di Mesir, demikian Thaha Husein, perlu didirikan sekolah moderen dan merombak kurikulum. Sistem pendidikan di Mesir harus didasarkan pada sistem dan metode Eropa dan dilaksanakan secara simultan di berbagai tingkat.pendapatnya ini didasarkan atas pengamatan bahwa seratus tahun terakhir, dasar dan struktur pendidikan murni adalah Barat.

Thaha Husein berhasil memajukan pendidikan di Mesir. Hal itu dibuktikan dengan pembangunan dua ribu enam ratus ruang belajar, dihapusnya uang sekolah tingkat menengah dan mendorong lahirnya dekrit Presiden Jamal Abdel Nasser untuk menambah Fakultas Kedokteran, Fakultas Administrasi Dagang, Fakultas Pertanian dan Fakultas Tehnik di Universitas al-Azhar.

Sumber:
Buletin Perdata dan Hukum Islam edisi 1/ Januari 2015, diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padangsidimpuan.


Leave a comment

Your email address will not be published.

*