Home » buletin » Situasi dan Kondisi Barat pada Abad Pertengahan

Situasi dan Kondisi Barat pada Abad Pertengahan

Oleh : Drs. Syafri Gunawan, M.Ag

Setelah sekian lama peradaban manusia mengukir kejayaannya di Timur, muncul di Barat beberapa ribu tahun kemudian. Peradaban baru itu diawali dengan munculnya kajian filsafat pada abad ke-6 SM. Thales telah dianggap sebagai filosof pertamaYunani. Filsafat kian pesat berkembang di Yunani melalui kiprah filosof kenamaan Socrates, Plato dan Aristoteles yang bermuara di sebuah sudut kota bernama Athena. Di Athena, misalnya, Plato (W.347 SM) mendirikan akademi filsafat yang belakangan dikenal sebagai Museum Athena, sebuah lembaga besar dan terbuka, tempat para ilmuan dari berbagai latar belakang bangsa dan agama bersama-sama mengembangkan pengetahuan.

ilutrasibaratSemenjak munculnya para filosof di atas, ilmu pengetahuan mulai berkembang di Yunani sebagai embrio lahirnya peradaban Barat. Namun, perkembangan filsafat dani lmu pengetahuan tersebut seakan-akan terhenti ketika kekaisaran Yunani runtuh, kemudian Kaisar Augustus mendirikan kerajaan Romawi (27 SM), Athena pada ketika itu tetap sebagai pusat kegiatan intelektual. Meskipun demikian secara perlahan kegiatan intelektual di bawah kepemimpinan Romawi mulai mengalami kemorosotan. Kemunduran yang sudah jelas ini mencapai puncaknya ketika Kaisar Justian I berkuasa dan pada tahap berikutnya disusul pula dengan runtuhnya kekuasaan Romawi. Dengan berakhirnya kedua kekaisaran tersebut, muncul kekuatan dan kekuasaan gereja sebagai penggantinya. Sejak itu, semua aktivitas keilmuan yang bertentangan dengan dogma gereja akan dimusuhi, bahkan ilmuannya dijatuhi hukuman mati.

Sejak masa ini, Eropa berada di bawah tekanan dan penindasan yang dilakukan oleh penguasa gereja dan penguasa Negara, kebebasan dikekang dan akal dibelenggu sehingga ilmu pengetahuan tidak memperoleh kemajuan. Selama berabad-abad Eropa ditekan oleh sistem religius yang menganut permusuhan terhadap alam. Eropa tidak memiliki gaya atau semangat hidup dan sama sekali tiada tempat bagi dunia penyelidikan ilmiah, bahkan pada masa itu Eropa kehilangan hubungan dengan hasil-hasil capaian filsafat Yunani dan Romawi.

Dengan keadaan yang kurang menguntungkan ini banyaki lmuan memutuskan untuk meninggalkan Athena, dan memilih pindah ketempat di mana kebebasan dan fasilitas keilmuan lebih tersedia. Pada umumnya pilihan yang diambil adalah daerah-daerah di pantai timur Laut Tengah, kedaerah yang dalam peta modern adalah Palestina, Lybia, Syiria, Mesir, Libanon, atau lebih kedalam lagi, Irakdan Persia. Proses ini berperan besar bagi semakin berkembangnya pemikiran Helenisme yang memadukan tradisi intelektual Yunani dan tradisi intelektual Timur. Di antara meraka yang memutuskan meninggalkan Athena pada 529 adalah ilmuan-ilmuan berikut: Justinianos, Athenius, Proclus, Damascius, Simplicius, Eulamius, Priscianus, Diogenes, dan Isidorus. Kegiatan ilmiah mereka ini mencakup bidang-bidang filsafat alam, psikologi, perawatan tubuh, astronomi, dan sejarah.

Eksodusi lmuan dari kota Athena tersebut mendorong terbentuknya atau semakin majunya beberapa pusat kegiatan ilmiah di daerah-daerah sebelah timur Laut Tengah. Di antaranya yang terpenting, seperti kota Aleksandaria, Edessa, Harran, Nisibis, dan Jundi Syapur.

Aleksandaria (Arab: al-Iskandariyah) dibangun sekitar abad ke-3 SM, terletak di pantai Laut Tengah, termasuk wilayah Mesir dalam peta modern. Kota iniberada di bawah kekuasaan Romawi Timur hingga datangnya Islam. Kota ini sangat signifikan karena sejak abad pertama Masehi telah menjadi pusat pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani, demikian jugai lmu-ilmu yang berasal dari tradisi Timur (India dan Cina) maupun tradisi ilmiah Mesir sendiri yang juga sudah sangat tua. Jadi, kota ini tidak saja berfungsi melanjutkan tradisi Yunani, tetapi juga memfasilitasi tradisi tersebut dengan tradisi Timur.

Sebaga ipusat ilmiah, kota Aleksandaria mendapat dukungan yang baik dari kaisar di Konstantinopel, paling tidak hingga abad ke-4 M. Tercatat bahwa-kota ini mengalami kemajuannya setidaknya sejak abad ke-1 hingga abad ke-5, dan sejumlah besar ilmuan meniti karirnya di sini, di antara yang paling terkenal adalah Euclid dan Ptolemy. Kelihatannya, keterbukaan dan kebebasan ilmiah yang dulunya.

membuat Athena maju kembali diterapkan di Aleksandaria. Para ilmuan dari berbagai latar belakang budaya dan agama dengan bebas berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan ilmiah di kotaini. Di sini sempat dibangun lembaga pendidikan, yang paling terkenal adalah Museum Aleksandaria yang dilengkapi ruang-ruang belajar, perpustakaan besar, dan observatorium raksasa.

Pada abad ke-5 M., tanda kemunduran kegiatan ilmiah mulai kelihatan menerpa Aleksandaria. Agaknya fanatisme agama yang berlebihan telah menyebabkan kebebasan intelektual mulai terganggu. Keadaan ini membuat sejumlah ilmuan tidak betah lagi di kota ini dan mencarit empat lain yang lebih menjanjikan kebebasan dan fasilitas yang lebih baik. Sebagian besar memilih untuk masuk kedaerah-daerah yang dikuasai kerajaan Persia Sasaniyah, sebab di bawah Sasaniyah kebebasan relatif lebih terjamin. Kemunduran Aleksandaria ini berlanjut terus, sehingga pada saat tentara Islam menaklukkannya pada tahun 643, yang tersisa hanyalah bagian kecil dari lembaga-lembaga ilmiah yang dulunya sangat megah.

Di antara kota tujuan para ilmuan yang meninggalkan Athena dan Aleksandaria adalah Edessa dan Harran, dua kota Mesopotamia Utara di mana kebudayaan Syria kuno sudah berkembang sejakawal. Meskipun pada umumnya penduduk daerah ini adalah penganut Kristen Nestorian, tetapi sebagai sebuah kotai lmiah, para ilmuan Pagan pun mendapat kehormatan di sini. Bahkan kegiatan kota Harran cenderung lebih didominasi olehi lmuan Pagan. Ketika pada tahun 489 M, kaisar Romawi Timur memerintahkan agar akademi ilmiah Edessa ditutup, para ilmuan kembali harus berpindah, kali ini ke Nisbis, masih di Mesopotamia Utara. Di sini berlangsung kegiatan penerjamahan karya-karya penting Yunani dan Sansekerta kedalam bahasa Persia Lama (Pahlavi) dan bahasa Syria, oleh para ilmuan Syria, Yahudi, Persia, dan lain-lain. Karya-karya yang diterjemahkan di sini mencakup bidang-bidang matematika, astronomi, kedokteran, dan filsafat. Pada paruh pertama abad ke-6 M. kota Nisbis memiliki sebuah akademi pendidikan yang mungkin bias disebut terbaik di dunia kala itu.

Pusat intelektual lain yang sangat penting disebut di sini adalah Jundi Syapur, sebuah kota tua di bagian tenggara lembah Mesopotamia dan berada di bawah kekuasaan kerajaan Persia Sasaniyah. Jundi Syapur menjadi pusat intelektual terbaik di zamannya, khususnya setelah raja Syapur II (310-379) memperluas kota ini dan membangun sebuah akademi ilmiah dengan dukungan fasilitas dan finansial yang baik. Akademi ini kemudian melanjutkan usaha bangsa Persia yang sejak awal telah berupaya mengembangkan pengetahuan yang mereka warisi dari peradaban Babilonia dan India, khususnya dalam bidang kedokteran, matematika, dan musik.

Bersamaan dengan berkembangnya kegiatan ilmiah di kawasan Sasaniyah, kerajaan Romawi Timur tampaknya lebih banyak dikuasai oleh kaisar-kaisar yang tidak mendukung kegiatan ilmiah, yang mengakibatkan ditutupnya sejumlah akademi di kota-kota yang sudah disebut di atas. Hal ini secara langsung menguntungkan kota Persia, Jundi Syapur, banyak ilmuan yang kemudian meninggalkan Athena, Aleksandaria dan kota-kota Romawi lainnya lalu memilih untuk menetap di Jundi Syapur. Kegiatan ilmiah di Jundi Syapurmencapai puncak kejayaannya pada abad ke-6 M., namun kota ini masih relatif vital sampai sekitar abad ke-10 M., setelah berada di bawah kekuasaan Muslim.

Dalam kaitan dengan Islam, kesemua kota tersebut dan tradisi intelektual yang dimilikinya adalah sebuah latarbelakang. Padaumumnya kota-kota Romawi Timur telah mengalami kemunduran serius pada abad ke-5 M. dan ke-6 M., sementara kota-kota Sasaniyah sedikit lebih belakangan. Secara geografis, Islam diturunkan di semenanjung Arabia, dikelilingi pada kebanyakan sisinya oleh daerah-daerah kekuasaan Romawi Timur (Mesir dan pantai timur Laut Tengah) dan Sasaniyah (Mesopotomia dan Persia).

Dari Arabia yang gersang, relative terbelakang dalam hal peradaban, bangsa Muslim melakukan perluasan wilayah yang kecepatannya sulit dicari tandingannya dalam sejarah bangsa-bangsa dunia. Dalam lebih kurang satu abad mereka telahmenguasai sebagian besarwilayah yang semula dikuasai Romawi Timur dan Sasaniyah yang memang dalam proses keruntuhan, terutama akibat peperangan yang berkepanjangan. Di sini bukanlah tempatnya untuk menguraikan proses perluasan Islam secara detail. Fokus utama kita adalah bahwa agama ini berhasil menstimulasi lahirnya satu peradaban anggun dan yang lebih penting lagi bagaimana status warisan peradaban kuno (khususnya Yunani-Helenisme) dalam peradaban baru yang menyapu sebagian besarwilayah Romawi Timur ini.

Sumber:

Buletin Perdata dan Hukum Islam “KEADILAN” Edisi 1/Januari 2015. 

Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padangsidimpuan. 


Leave a comment

Your email address will not be published.

*