Home » buletin » Urgensi Ilmu dan Adab

Urgensi Ilmu dan Adab

Oleh:

Hasir Budiman Ritonga, S.H.I., M.Sh

niat

Masalah yang mendasar yang sedang dihadapi umat sekarang ini adalah masalah ilmu dan adab. Ilmu sudah mulai dijauhkan, bahkan dihilangkan dari nilai-nilai adab dalam arti luas. Akibarnya, terjadilah suatu keadaan yang oleh al-Attas disebut sebagai ‘the loss of adab’ (hilangnya adab). Efek buruk dari fenomena ini adalah terjadinya kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan, yang selanjutnya menciptakan ketiadaan adab dari masyarakat. Hasil akhirnya adalah ditandai dengan lahirnya para pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin umat, melainkan juga tidak memiliki akhlak yang luhur dan kapasitas intelektual dan spiritual mencukupi, sehingga itu semua akan membawa kerusakan di pelbagai sektor kehidupan, baik kerusakan individu, masyarakat, bangsa dan negara.

Di dalam Islam, ilmu dan adab adalah dua hal yang saling terintegrasi, yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Keduanya ibarat sebuah koin yang tak terpisahkan dan kebermaknaan yang satu tergantung pada yang lainnya. Ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa buah, adab tanpa ilmu ibarat orang yang berjalan tanpa petunjuk arah. Dengen demikian ilmu dan adab harus bersinergi, tidak boleh dipisah-pisahkan. Berilmu tanpa ada adalah dimurkai, sementara beradab tanpa berilmu adalah kesesatan.

Lebih dari itu, ilmu dan adab adalah inti dari ilmu nafi’, yaitu yang bermanfaat. Ilmu nafi’ ini adalah ilmu yang pernah diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. agar diminta dan dicari setiap saat. Allah Swt. berfirman kepada Nabi-Nya,

 

وقل رب زدني علما.

“Dan katakanlah, wahai Tuhanku tambahkanlah ilmu kepadaku” (Thaahaa: 114)

Melalui ayat ini, Rasulullah saw. diperintahkan untuk senantiasa memohon kepada Allah tambahan ilmu yang bermanfaat. Ibnu Uyainah berkata, “Rasulullah saw. tidak henti-hentinya memohon tambahan ilmu nafi’ kepada Allah sampai wafatnya.” Ibnu Katsir menambahkan bahwa Rasullah saw. tidak pernah diperintahkan untuk meminta tambahan apa pun kecuali tambahan ilmu nafi’ ini. Oleh kerena itu, Rasulullah saw. senantiasa istiqamah melanjutkan doa ilmu nafi’ sebagaimana berikut ini,

عن أبي هريرة رضي الله عنه, قال: كان رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول: الله انفعني بما علمتني, وعلمني ما ينفعني, وزدني علما, و الحمد لله علي كل حال وأعوذ بالله من حال أهل النار.

 

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasullah saw. senantiasa membaca doa, “Ya Allah, berikanlah manfaat terhadap apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajari aku apa yang bermafaat bagiku, dan tambahilah aku ilmu. Segala puji hanya milik-Mu atas segala keadaan dan aku berlindung dari perilaku ahli neraka.” (HR Tirmidzi dan Bazzar)

 

Ilmu yang bermanfaat (ilmu nafi’) akan mendatangkan iman. Realisasi iman akan membawa pada amal saleh. Intergarasi keduanya akan mambawa kepada jalan yang lurus (sirath mustaqim). Dengan demikain, bila ilmu didapatkan, tetapi tidak diikuti dengan amal saleh, bisa digolongkan kepada ilmu yang tidak bermanfaat (ghairu nafi’) dan bahkan termasuk dalam perbuatan munafiq atau seperti perbuatan Yahudi yang dilaknat.

Ilmu yang bermanfaat aselanjutkan akan mendatangkan rasa takut kepada Allah (khasyah) sehingga dapat mendekatkan  pemiliknya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan pemiliknya disebut alim atau ulama. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Fathir: 28,

 

إنما يخشي الله من عباده العلمؤا إن الله عزيز غفور.

“Sesungguhnya hanyalah yang kepada Allah dari hamba-Nya adalah ulama (orang yang berilmu). Sesunguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 28)

 

Menurut Ibn Jauzi ayat ini mengindikasikan bahwa ilmu yang bermafaat aakan mendatangkan khasyah ‘takut’ kepada Allah, dan pemiliknya senantiasa mangukui keagungan Allah sehingga melahirkan tahqiq ubudiyah, yaitu ketundukan dan penghambaan kepada-Nya. Sebalikny, ilmu yang tidak mendatangkan khasyah, tidak bisa disebut sebagai ilmu yang bermafaat dan pemiliknya tidak masuk dalam kategori alim.

Imam Syafi’i, lebih lanjut membuat sebuah kaidah yang tekenal, yaitu “lasail ilm ma hufidza walakin al-ilm ma nafa’a”. artinya, tidaklah disebut ilmu, apa yang hanya dihafal, tetapi ilmu adalah apa yang diaktualisasikan dalam bentuk adab yang memberikan manfaat.

Kaidah Imam Syiafi’I tersebut senada dengan apa yang dikatakan oleh Hubaib ibn Syahid ketika memberikan nasihat kepada putranya,

 

يا بني, اصحب الفقهاء و العلماء و تعلم منهم وخذ أدبهم, فإن ذلك أحب إلي من كثير من الحديث.

 

“Hai anakku, bergaullah (ikuti dan temani terus) dengan para ahli fiqh dan ulama, belajarlah dari mereka, dan ambillah adab (pendidikan akhlak) dari mereka! Karena hal itu lebih aku sukai daripada hanya sekedar memperbanyak hadits.”

Pentingnya ilmu dan adab dalam tradisi intelektual Islam, telah mendorong perhatian para ulama salaf untuk melahirkan sebuah karya abadi tentang kponsep ilmu dan adab, dengan kajian yang mendalam dan konprehensif. Misalnya, Imam Bukhari (194-256) menulis tentang Adab al-Mufrad, al-Rummani (w.384 H) menulis tentang Adab al-Jadal, Ibnu Sahnun (202-256 H) menulis Risalah Adab al-Mu’allimin, al-Mawardi (w.450 H) menulis tentang Adab al-Dunya wa al-Din dan Adab al-Wazir, al-Ghazali (450-505 H) menulis Kitab Al-Ilm, Fatihah al-Ulum dalam Ihya Ulum al-Din, Muhyiddih al-Nawawi (w.676 H) menulis tentang Adab al-Daris wa al-Mudarris, dan kitab-kitab karangan ulama lainnya.

Dari kajian para ulama tersebut disimpulkan bahwa adab memiliki peran sentral dalam dunia pendidikan. Tanpa adab, dunia pendidikan berjalan tanpa ruh, dan makna. Lebih dari itu, salah satu penyebab utama hilangnya keberkahan dalam pendidikan adalah kurangnya perhatian civitas akademikanya dalam masalah adab. Az-Zurnuji mengatakan, “Banyak dari para pencari ilmu yang sebenarnya mereka sudah sungguh-sunggu menuntut ilmu, namun mereka tidak merasakan nikmatnya ilmu, hal ini disebabkan mereka meninggalkan atau kurang memerhatikan adan dalam menuntut ilmu.”

Oleh karena itu, adab harus menjadi perhatian utama bagi pencari ilmu, agar ilmu yang didapatkan kelak bermanfaat dan mendapat keberkahan. Ibn Jama’ah mengatakan, “mengamalkan satu bab adab itu lebih baik daripada tujuh puluh bab ilmu yang hanya sekedar dijadikan sebagai pengetahuan.” Artinya, ilmu sedikit yang diiringi dengan adab itu lebih baik daripada ilmu yang banyak, tetapi kosong dari adab (loss of adab). Wallahu a’lam bisshowab.


Leave a comment

Your email address will not be published.

*